Selasa, 23 Agustus 2011

Pasca Amukan si Jago Merah, Mereka Ingin Terus Bersekolah


Namanya Sulastri, salah satu siswi SD Gebang kelas IV yang rumahnya habis dilalap kobaran api Senin kemarin (22/8). Rumahnya termasuk bagian dari musibah kebakaran yang terjadi di kawasan pemukiman pemulung Keputih Medokan RT 02, Surabaya Timur. Ia terpaksa tidak bersekolah pada hari ini (23/8) sebab segala peralatan sekolahnya dan buku-buku telah menjadi abu.
Hal senada juga diungkapkan oleh Nur Aini, seorang siswi SD Semampir kelas IV juga harus ikhlas tidak masuk sekolah sementara waktu ini. Karena semua barang dan peralatan milik keluarganya tertimbun dan hangus bersama reruntuhan rumahnya. Padahal, gadis kecil tersebut bercita-cita untuk menjadi guru dan dapat berkuliah di ITS. Ibu kandungnya yang sehari-hari berprofesi sebagai pemulung bersedih atas terjadinya musibah ini. “Gimana lagi mas, habis semua barang-barang yang kami punya, uang di kantong juga tinggal 100 ribu,” keluhnya dengan mata sembab.

Siluet '45


dakwah-muda.blogspot.com
Oleh: Bung Malik*
“Tak bisakah kau menundanya, walau hanya sejenak?”
“Tidak.”
“Bukankah sebelumnya kau selalu memberi keteduhan kepada mereka dan tanah itu?”
Terdiam.
“Maka Berikanlah secuil harapan dan kesempatanmu sekali lagi.”
Namun rintihku lagi-lagi disambar dengan kata ‘TIDAK’ secara lantang dan tanpa pikir panjang.

“Sebilah Lalu……”


Oleh: Bung Yaumil*
“Bathori! Bathori!” seseorang berteriak.
Belasan ibu-ibu masuk kembali kedalam rumah gubuk yang cukup besar, seperti aula yang tertutup. Riuh di dalamnya. Disisi lain kampung tak ada kunampak anak-anak kecil dan kaum lelaki. “Kemana mereka semua?” Bisik batinku.
Perkiraanku saat ini telah memasuki sore hari. Matahari tak lagi garang dalam pandangan. Tidak banyak rumah yang terjebak dalam lembah ini. Kaki gunung yang indah. Karena semua gundukan tinggi ini kelihatan berbaris gagah menantang. Tak ada satupun aku lihat penduduk kampung ini bersifat primitif namun tidak ada pula kulihat tiyang listrik.

Selamat Ultah Bung (2): Hatta Bukan Manusia Indonesia


kolom-biografi.blogspot.com
Oleh: Bung Samdy*
“Selamat Ultah Bung” dibuat untuk mengenang 4 pemimpin awal Republik ini yaitu Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan Bung Amir di hari ulang tahun mereka.
Tatkala memikirkan nasib suram bangsa, saya selalu mengenang sosok satu ini. Saya pun bertanya-tanya dalam hati mengapa seorang Mohammad Hatta tidak dilahirkan untuk masa kini saja.
Mungkin keprihatinan itu wajar dalam keadaan yang tanpa harapan. Kita akan terus terkenang orang-orang terdahulu sembari berandai agar mereka datang kembali. Dalam angan-angan itu kita terkadang terlalu latah mengandaikan zaman dulu sama dengan sekarang. Bisa jadi, mereka pun tidak bisa berbuat banyak jika masih hidup.

Keberuntungan di Tengah Amukan Jago Merah


Foto: Tampak barat rumah polisi yang selamat dari amukan jago merah (langkahawal)
Gambar ilustrasi setelah kebakaran
Seperti yang dilansir oleh Jawa Pos (23/8), sungguh beruntung nasib Muhajir, salah satu anggota polisi yang bertugas di Polsek Bubutan. Rumahnya yang berada di kawasan Keputih Medokan, lolos dari kobaran api yang membakar puluhan pemukiman warga Keputih Medokan RT 02 Senin kemarin (22/08). Padahal bangunan rumah warga yang berada di sekitarnya, baik permanen maupun seni pemanen habis luluh lantak dilahap si jago merah. Rumah tersebut memang terletak di sebelah barat lokasi kejadian. Di mana menurut salah satu warga setempat, sumber api bermula dari bagian timur pemukiman tersebut. Hanya  di salah satu sudut  bagian atas bangunan rumah anggota polisi itu yang hangus terbakar kobaran api.
Api yang menjalar cepat di kawasan itu sempat membuat petugas pemadam kebakaran kewalahan dalam memadamkannya. Karena suhu udara yang terik dan angin kencang serta bangunan rumah yang kebanyakan terdiri dari kayu dan bambu, membuat jilatan si jago merah sulit ditaklukan. Memang mayoritas penghuni kawasan tersebut adalah pemulung yang menjadikan rumahnya sekaligus gudang untuk menyimpan benda-benda bekas berbahan plastik dan kaleng.
Citra satelit pra kebakaran
Ketika Petugas Pemadam Kebakaran sedang bekerja keras memadamkan api di sebelah barat lokasi kejadian. Herman, salah seorang warga sempat menghimbau kepada petugas agar memindahkan unit mobil pemadam kebakaran di area sebelah barat menuju ke lokasi kebakaran di sebelah timur melalui jalur lapangan. Karena menurut warga tersebut  3 unit mobil pemadam kebakaran yang berada di sebelah barat kurang optimal perannya. Mobil pemadam kebakaran mengantri berjejer hanya untuk memadamkan titik api sebelah barat. Sedangkan di daerah timur, yang juga merupakan lokasi awal api menjalar di pemukiman tersebut, tidak tersentuh air dari petugas pemadam kebakaran. Tapi pendapat warga tersebut tidak diindahkan oleh petugas dengan alasan mobil tidak seperti pesawat yang bisa terbang pindah lokasi. “Memang mobil ini burung, bisa terbang ke sana,” ujar saksi mata tersebut menirukan omongan petugas pemadam kebakaran.
Berdasarkan saksi mata lainnya, Nur-ibu paruh baya, warga yang berdomisili di seberang lokasi kejadian menuturkan banyak anggota polisi dari Polsek Bubutan yang berjaga saat kebakaran terjadi. Hal tersebut sesuai dengan pantauan kru Langkah Awal yang melihat pengawalan ketat polisi sejak pukul 12.00 WIB hingga api mulai padam pada pukul 15.00 WIB.
Memang keberuntungan selalu berpihak pada warga yang mengabdikan dirinya pada negara. (arif)

Baca artikel sebelumnya yang berkaitan dengan berita ini: Kampung Pemulung Keputih Ludes Terbakar

Kampung Pemulung Keputih Ludes Terbakar

Foto: Chandra Eka S-Tiyang Alit
Si Jago Merah kembali melahap pemukiman warga Keputih Medokan RT 02 sejak pukul 12.00 WIB pada hari Senin kemarin (22/8). Penyebab kebakaran tersebut hingga berita ini ditulis masih belum jelas. Ada warga yang mengatakan berkobarnya api di kawasan pemulung tersebut disebabkan arus pendek listrik. Juga muncul spekulasi bahwa api berasal dari kompor gas LPG. Dan sebagian warga lainnya mengira bahwa musibah yang melanda sekitar 250-300 warga itu karena ada yang membakar sampah plastik. Menurut penjelasan dari aparatur setempat, kejadian kebakaran semacam ini sudah terjadi 7 kali. “Memang ini yang terbesar, sehingga satu kampung terkena kobaran api.  Sebelumnya, 6 bulan yang lalu juga sudah terjadi kebakaran. Hanya saja kebakaran tersebut membakar dua rumah,” terang Khoirul, ketua RT setempat.

Rabu, 17 Agustus 2011

Keluh Kesah Calon Mahasiswa ITS


Saat itu puluhan orang menyemut di sekitar Gedung dr.Angka. Selama 5 hari (4-9 Juni 2011), calon mahasiwa ITS dari pelosok Tanah Air sedang mendaftar ulang. Ada yang ditemani orang tua, tidak sedikit pula yang bersama teman. Raut kebingungan tergambar jelas di sebagian wajah mereka yang mengalami kesulitan membayar biaya daftar ulang.
Brian adalah salah satu di antaranya. Sebelum ke mendaftar ulang, ia tidak tahu bahwa ITS membolehkan mahasiswa kurang mampu mengajukan penundaan pembayaran Sumbangan Pengembangan Pendidikan (SPP) dan Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI). “Tahunya pas datang di tempat,” katanya ketika dijumpai Langkah Awal Rabu (28/7).

Kampus yang Mulai Hilang Jati Dirinya


carikampus.com
Oleh: Bung Bara*
“Aku ingin agar mahasiswa-mahasiswa ini menyadari bahwa mereka adalah  the happy selected few yang dapat kuliah dan karena itu mereka harus menyadari dan melibatkan diri dalam perjuangan bangsanya” —Soe Hok Gie – Sekali Lagi―         
Dimasa rezim Soekarno hingga sekarang, mahasiswa dianggap sebagai status sosial yang dipandang eksklusif dalam segi positif oleh masyarakat. Terlepas dari baik maupun buruknya, mulai dari sebelum era kemerdekaan hingga sekarang banyak sekali karya mahasiswa berupa penyikapan terhadap praktek-praktek ketidakadilan dan pembodohan terhadap rakyat. Hal tersebut merupakan salah satu yang membuat  masyarakat beranggapan bahwa mahasiswa adalah status sosial yang eksklusif dalam segi positif.

Lahirnya Para Penerus Bangsa (dan itu “sah”)


sudhew.wordpress.com
Oleh: Bung Yaumil*
Selamat datang generasi-generasi bangsa 2011. Para pemuda yang akan memasuki dunia kemahasiswaan dan tentunya selamat telah menjadi manusia-manusia pilihan; karena berhasil “menyingkirkan” ribuan calon mahasiswa lainnya yang juga berniat melanjutkan pendidikan di kampus tercinta ini: Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS).
Dari itu saya akan memulai manifestasi ini dengan sangat bahagia dan bangga maka saya akan memanggil Mahasiswa Baru ITS 2011 dengan sebutan teman. Tahukah teman-teman baru 2011, bahwa kelahiran kalian di dunia kemahasiswaan di sambut oleh sejarah dengan begitu meriah sekaligus dengan duka yang tak kunjung usai.

Bukan Generasi Penyontek

otakmuda.blogspot.com
Oleh: Bung Samdy*
#Untuk Calon Mahasiswa ITS
Sudah banyak buih keluar dari mulut gara-gara membicarakan kejujuran. Namun sayangnya, seringnya orang bicara kejujuran sama seringnya dengan orang melanggarnya. Coba jawab pertanyaan sederhana ini: Apakah soal ujian nasional kalian kerjakan sendiri? Berapa banyak dari kalian yang menyontek ketika ujian atau dalam mengerjakan tugas?
Saya yakin, kejujuran adalah harga yang sangat mahal di sekolah kalian. Tidak perlu dibantah bahwa sekolah kalian akan menghalalkan segala macam cara agar kelulusan mencapai 100 persen. Tidak hanya peningkatan jam belajar dan intensitas membahas soal, tapi juga dengan intrik tak terpuji seperti sengaja membiarkan murid mendapat bocoran jawaban dengan keterlibatan para guru.

GURU (2), Bukanlah Sekedar Profesi!


regional.kompas.com
Oleh: Bung Imot*
“Ada sesuatu yang mulia pada seorang guru. Pada guru lah ada kerlap-kerlip cahaya kebajikan dalam setiap nilai yang mereka ajarkan. Lewat guru lah memancar gemerlap sinar keikhlasan dan ketulusan pada kerja yang mereka lakukan. Merekalah sumber cahaya-cahaya itu, yang menyinari setiap hati anak-anak didik mereka.”
Awal bulan, merupakan hari-hari dimana para profesionalis menampakkan senyum lebarnya. Lembaran-lembaran rupiah semakin menyesakkan kantong. Momen seperti ini biasanya digunakan untuk mengekspresikan kelelahannya setelah berkerja selama sebulan.

Nathan


Kepada Yang Terhormat
Saudara redaktur Langkah Awal ITS
di tempat
Sungguh betapa bahagia dan kagumnya saya pribadi dengan adanya sebuah buletin independen di kampus ITS ini. Saya tertarik untuk membagi perasaan jengkel yang saya pendam selama menjejakkan kaki di Kampus ITS ini. Dan salah satunya adalah perasaan jengkel yang baru seminggu kemarin saya alami. Apalagi ketika ada rubrik surat pembaca dalam buletin Langkah Awal yang saudara redaktur kelola. Mungkin ini memang benar-benar Langkah Awal agar ITS lebih berani bersikap ksatria. Tidak juga gengsi bersikap munafik selalu menutup-nutupi kebusukan-kebusukan boroknya selama ini.

Efren “Bata” Reyes

Efren ”Bata” Reyes Vs Jim Rempe
Oleh: Bung Henry*
Permainan bola sodok atau biliar mulai dikenal di kawasan Asia Tenggara sejak bangsa Eropa mulai melakukan perluasan daerah kekuasaan, baik dalam bentuk koloni maupun negara persemakmuran. Terlihat seperti terjadi akulturasi, ketika manusia-manusia di Kawasan Asia tenggara mulai mengenal bahkan memainkan permainan ini.
Bukan tanpa perlawanan pula permainan yang terstigma buruk; sering dikaitkan dengan judi-ini, mulai populer. Di Negara kita Indonesia, permainan biliar pertama kali merambah masyarakat kelas bawah. Terpengaruh oleh arus modernisasi dan budaya barat yang sangat mengiming-imingi kebebasan, permainan biliar mulai dimainkan semua kalangan. Saat ini, permaian biliar merupakan salah satu cabang olahraga yang telah dipertandingkan hingga tingkat Internasional.

Senin, 15 Agustus 2011

Atas Semua-muanya

Oleh: Yaumil F Gayo

Angin lebih tua dari pada kita
Bahkan matahari masih berlaku adil jua
Ku elus pagi dengan cacian yang sempurna
Percayalah, aku sungguh dekat sedekat dekatnya
Sangat dekat….

Kamis, 04 Agustus 2011

Sedikit Refleksi Tahun 2008



Disunting oleh: Bung Yaumil*
Hari ini saya mencoba untuk mengintip sedikit sejarah Indonesia tahun 2008—hari yang biasa panas pun mendung rasanya, tertarik saya melihat beberapa kumpulan artikel yang memuat perang pernyataan antara salah satu wartawan senior Majalah Tempo: Goenawan Mohamad dengan ketua FPI Al-Habib Muhammad Rizieq Syihab.
Banyak kontroversi mengenai Indonesia kekinian (2008.red) dari yang paling benar, paling taat, paling hebat, paling pintar dan paling….. Yang pastinya mencoba untuk mewakili wajah rakyat Indonesia. Tulisan perdebatan ini tidak banyak yang mem-publish di karenakan akan memicu banyak konflik baru, hanya tulisan Goenawan Mohamad yang di “angkat” oleh Majalah Tempo (Majalah Tempo 16-22 Juni 2008) dan Habib Rizieq sendiri menggunakan hak jawabnya, namun tidak ada media yang berani mempublishnya: maka dari itu saya mencoba untuk berbagi kepada pembaca Langkah Awal yang terhormat karena menurut saya banyak pelajaran bisa diambil.

Selasa, 02 Agustus 2011

Kelompok Paling Kiri di Indonesia



ilustrasi.langkahawal
Oleh: Bung Samdy*
Apa yang ada di kepala kita kalau mendengar kata “kiri”? Selain petunjuk arah, kata itu akan dikaitkan dengan apa saja yang berbau komunisme atawa sosialisme. Dengan demikian, “kelompok kiri” adalah kelompok yang berazaskan kedua ideologi itu. Sedangkan “orang kiri”  berarti seseorang yang tergabung dalam kelompok kiri atau siapa saja yang menganut paham tersebut secara pribadi.

Buku 'Indonesia Menggugat'


Oleh: Bung Frans*
Desember 1930, Bung Karno dan ketiga temannya (Gatot Mangkoepradja, Soeriadinata, dan Maskoen) sebagai pimpinan PNI ditangkap dan diadili sampai akhirnya dijatuhi hukuman 4 tahun penjara atas tuduhan menghasut rakyat untuk merobohkan pemerintahan Hindia Belanda dengan kekerasan. Pada kesempatan itulah Bung Karno membeberkan keburukan-keburukan dari penjajahan di Indonesia pada khususnya sejak jaman kompeni sampai pada tahun 1930, tentunya dengan gambaran buruknya kapitalisme dan imperialisme di Indonesia. “Indonesia Menggugat” adalah buku yang diangkat dari pidato pembelaan Bung Karno di muka Landraad (Pengadilan Hindia Belanda) Bandung 1930.

Sabtu, 30 Juli 2011

Suratan Gala


Oleh: Yaumil F Gayo
“Harus aku tuntaskan malam ini, tanpa harapan bahwa engkau akan selalu mencintaiku.”
“Semoga surat ini mampu mewakilkan cintaku, gundahku, rinduku, mimpiku tanpa air mata.” Bisik Gala kepada malam.
*****
Meulaboh, malam 24 Desember 2004
Untuk Istriku, Tarla.
Salam cinta untukmu dari aku nun jauh.

La Bel Ing Ag Omo


Oleh: R Arif Firdaus Lazuardi
Di dunia tempatku bertinggal. 
Bagiku agama hanyalah sebuah identitas belaka. Atau bisa juga disebut, hanya sekedar alat yang digunakan manusia untuk memuaskan kepentingan. Baik kepentingan pribadi maupun golongan. 
Tidak ada yang bersih. Tidak ada yang suci. Dan tidak ada yang benar-benar murni dan tulus dalam beragama. Hanya beberapa orang saja, itupun adalah orang-orang pilihan. Selebihnya, tak jauh berbeda dengan si kera. Rakus. Tamak. Serakah.
Dan aku, tentunya bukan orang pilihan. Maka aku skeptis tentang agama. 

Rabu, 27 Juli 2011

“Yang Terhormat” dan Kemiskinan


Foto ilustrasi. Diambil dari habibibro.blogspot.com
Oleh: Ika Astutik*
Malam, di perempatan salah satu kawasan elite, Jalan Kertajaya Indah, Surabaya. Cuaca  yang cukup dingin untuk kulit. Kondisi itu tak menghalangi tubuh ringkih bocah seumuran 7 tahun untuk menjejak jalanan dalam kerumunan kendaraan. Lampu merah menghadirkan detik-detik harapan berkah buat bocah yang tubuhnya penuh gantungan kerupuk ”pasir”. Dengan gesit  menghampiri  kendaraan satu-satu. Mulut mungilnya mengeluarkan suara lirih yang beradu dengan kebisingan kendaraan angkuh untuk menawarkan kerupuknya.