![]() |
| kanalinformasi.com |
Oleh: Bung Wiwit*
Mahasiswa
identik dengan tulis menulis bukan diskusi. Satu kalimat pengantar yang
disampaikan oleh bung Yaumil sebagai pengantar materi pada diskusi beberapa
minggu lalu. Berbeda dengan diskusi sebelumnya, diskusi kali ini berjalan cukup
serius tapi santai karena bukan membahas sejarah seperti biasa tapi hanya
bertumpu pada sebuah buku yang berjudul “Seandainya Saya Wartawan TEMPO” dari
Institut Studi Arus Informasi dan Yayasan Alumni TEMPO.
Seandainya
anda seorang wartawan yang harus diperhatikan pertama adalah feature, begitu
buku itu menjelaskan. “Dalam perjalanan pulang dan pergi anda sering melihat
anak-anak mengamen di perempatan-perempatan jalan. Anda sudah ratusan kali
melihat mereka dan tanpa peduli. Tapi tiba-tiba suatu pemandangan di dalam bus
kota yang anda naiki, yang agak lain dari biasanya, menyebabkan anda mengambil
notes. Mencatat. Tiga anak pengamen melompat kedalam bus, salah satunya cacat
kedua tangan dan kakinya. Yang berseragam sekolah dasar membawa tas, bukan
berisi buku, tapi rebana. Ketika rebana sudah dikalungkan di leher dan ditabuh,
si cacat pun bernyanyi lagu dangdut. Anda sudah mulai melangkah untuk satu
cerita feature.












