Jumat, 23 September 2011

Berkarya...!

“Seorang terpelajar juga harus berlaku adil, sudah sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan,” begitu yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer. Nasihat, untaian kata yang abadi, tergores dalam kertas putih bersih. Menjadi sejarah bagi para penerus. Begitu pun dengan Langkah Awal, kami selalu mencoba dan berusaha menjadi insan yang terpelajar, berusaha adil sejak dalam pikiran, menorehkan pemikiran dan kegelisahan agar abadi dan menjadi sejarah bagi penerus. Tidak ingin membawa mati semua kegelisahan yang ada.
Di edisi ke-15 ini kami berterima kasih kepada Bung Eko, Teknik Informatika 2010, yang tetap ikhlas menyumbangkan karya karikaturnya untuk Langkah Awal. Juga kepada Bung Faris, yang mengirimkan gagasannya berjudul Bijak, Bijaksana, Kebijakan, dan Kebijaksanaan.
Dengan berkarya maka terukir sebuah sejarah baru, minimal-bagi dirinya sendiri. Dan tulisan adalah karya yang sederhana dan abadi. Teruslah berkarya. Salam Kebebasan Berpikir.

Tidak Tahu atau Tidak Mau Tahu!


eko shikamaru-TC '10
Perundangan Dibuat Untuk Dilanggar
Menjadi mahasiswa merupakan anugerah tertinggi yang didapatkan seorang pemuda bangsa. Apalagi menetapkan pilihan untuk aktif dan berkegiatan dalam Organisasi Mahasiswa (Ormawa), tentulah sebuah kesadaran yang tinggi untuk dapat memberikan manfaat yang berarti ke orang lain. Ironisnya, kemampuan yang kita miliki dalam bidang akademis, belum tentu mampu menghadirkan kesadaran yang tinggi tersebut. Sangatlah paradoks. Tidak menutup kemungkinan, banyak dari mahasiswa tidak paham perundang-undangan yang mengatur dunia kemahasiswaan atau Ormawanya sendiri. Dan tidak menutup kemungkinan pula jika mahasiswa dapat dengan mudah ditunggangi. Akar permasalahannya terletak pada ketidakpahaman mengenai UU dan aturan yang berlaku dan mengikat.
Atas dasar inilah, Tim Langkah Awal melakukan analisa mendalam terhadap perundang-undangan yang ada, juga melakukan wawancara ke beberapa mahasiswa, baik aktivis Ormawa maupun tidak, untuk menggali sekilas kondisi yang terjadi di lingkup Ormawa.

Kebenaran-Jalanan, Bagian II: Enyahlah Politik Kampus


beritapolitikterkini.blogspot.com
Oleh: Bung Yaumil*
Politik, Mahasiswa Tidak Butuh Praktik
Aristoteles: “Poltitik sama dengan kedaulatan dan kekuasaan yang melahirkan negarawan atau penjahat.” Bagi saya jelas bahwa Aristoteles telah memberikan penekanan akan arti politik, jikalau kita tak tuntas membahasnya maka seorang yang berharap menjadi negarawan akan menjadi penjahat yang tak terampunkan. Dan saat itulah kita akan berkomentar: “Bahwa kita harus berpolitik untuk membangun kebaikan.”
Saya mulai ketika teman-teman ITS merasa bahwa politik penting untuk dipraktikkan, politik dalam KBBI adalah ilmu yg mempelajari sifat dan fungsi negara dan pemerintah, bukan kampus tentunya—walaupun kita beranggapan bahwa dunia mahasiswa adalah miniatur negara dengan trias politika-nya.

“Eco Campus” Hasrat Gengsi


its.ac.id
Oleh: Bung Samdy*
Betapa bahagianya pejabat ITS membaca media cetak maupun elektronik hari Jum’at (16/9) lalu. Di kala kisruh UI masih mendominasi pemberitaan soal kampus, kabar “ITS Eco Campus” seakan memberi kesejukan. Berbagai program telah dicanangkan seperti penanaman pohon, membatasi kendaraan bermotor, serta mengurangi pemakaian AC. Tak ketinggalan, penyediaan sepeda sebanyak 500 unit.
Langkah ini boleh dikata “revolusioner” untuk ukuran ITS dan Indonesia. Sebagai negara berkembang, Indonesia berbeda dengan negara maju. Tanda majunya sebuah negara dapat dilihat dari seberapa banyak wilayahnya mengepulkan asap. Entah itu karena industri ataupun kendaraan bermotor.

Pendidikan, Pendidikan, dan Pendidikan!


womenisbasketball.blogspot.com
Oleh: Bung Imot*
Pendidikan seharusnya merupakan usaha yang sadar, tanpa tekanan tetapi dengan kebebasan. Tak sedikit dari peserta didik saat ini mengenyam pendidikan dengan tekanan. Entah tekanan dari orang tua, kondisi sekitar, ataupun dari tempat dia berkumpul dan berkegiatan pendidikan secara formal—biasa kita sebut sekolah.
Mungkin karena orang tua yang sayang dengan buah hatinya dan ingin melihat si buah hati hidup bahagia kelak. Dia selalu berusaha untuk menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya. Usaha yang sangat mulia dan mengharukan, bertujuan agar anak-anaknya tak sebodoh bapak dan ibunya. Namun sering kali usaha tersebut memaksakan si anak. Dan mengancam kebebasan untuk memilih sendiri jalur pendidikan yang disukai dan sesuai dengan otak.

Bijak, Bijaksana, Kebijakan, Dan Kebijaksanaan (Dibaca 3 X)


zulchizar.wordpress.com
 Oleh: Bung Faris*
Kebijakan yang kurang diplomatis dalam putusannya adalah kebijakan Mao Zedong pada tahun 1958, yaitu setiap warga negara wajib membunuh burung gereja atau burung pipit yang dianggap menjadi hama yang menggagalkan panen rakyat Cina ketika itu. Mao Zedong dengan sistem komunisnya, mengeluarkan kebijakan bagi semua rakyatnya untuk membunuh (baca: memusnahkan) burung pipit yang dianggap sebagai hama tersebut. Mao Zedong memberikan insentif untuk setiap bangkai burung yang didapatkan petani, dan seperti pemberian insentif untuk kelancaran sebuah kebijakan pemerintah masih berlangsung hingga sekarang.

Putri Ayah


faizal.web.id
Oleh: Bung Donny*
“Manusia, agung bukan karena kekuasaan ataupun harta benda, tapi lebih pada banyaknya beban derita yang ditanggung dan jerih payahnya”
Pagi buta, seperti pagi yang telah lalu, hawa dingin menyergap kedamaian tidurku. Seolah sinar mentari yang masih mengintip malu-malu belum cukup untuk menebar kehangatannya. Kusingkap selimutku, kupaksakan kaki melangkah menapaki lantai rumah yang hanya berupa alas tanah. Aku mengambil air untuk segera dimasak. Sebelumnya kunyalakan kompor, bukan, bukan kompor! Itu tak lebih dari tumpukan kayu yang dilalap api. Rutinitas atau kewajiban, atau mungkin keduanya, aku belum tahu. Beginilah yang dilakukan wanita-wanita di desaku tiap paginya. Wanita? Tampaknya aku belum cocok disebut wanita, aku masih seorang gadis. Ibuku, aku tak pernah melihatnya. Hanya ayah. Hampir lupa aku perkenalkan diriku. Namaku,

Tan Malaka: Dari Seorang Guru Hingga Seorang Filsuf


putramalaka.wordpress.com
Oleh: Bung Ucup*
Dua puluh delapan  Maret 1963, Presiden Soekarno menandatangani keputusan presiden RI No. 53 yang menetapkan seseorang sebagai pahlawan kemerdekaan nasional. Seseorang itu bernama Ibrahim Datoek, sedangkan gelar Tan Malaka atau lebih sering dikenal dengan nama Tan Malaka. Kalau dibandingkan dengan soekarno, syahrir ataupun hatta memang Tan Malaka tidaklah terlalu terdengar namanya seperti mereka bertiga. Akan tetapi perjuangan dan pemikiran-pemikirannya berandil sangat besar bagi negara dalam mencapai kemerdekaan pada masa pemerintahan kolonial belanda. Tan malaka Lahir di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat pada tanggal 19 Februari 1896. Seorang aktivis pejuang yang nasionalis di bidang pergerakan juga menjadi seorang pemimpin sosialis. Selain itu dia juga merupakan seorang politisi yang mendirikan partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba) pada tanggal 7 Nopember 1948 – Bertepatan dengan hari revolusi rusia-. Partai Murba muncul setelah Partai Komunis Indonesia (PKI) tersingkir pasca Peristiwa Madiun September 1948. Partai Murba pada mulanya berasal dari Sarekat Islam (SI) Jakarta dan Semarang.

Sejarah Persepakbolaan Indonesia


lubang-kecil.blogspot.com
Oleh: Bung Rafli*
Pada kesempatan diskusi minggu lalu (16/9), Bung Ucup sebagai pengantar materi menghadirkan sekilas sejarah persepakbolaan Indonesia. Dengan raut muka serius dan gaya bertutur yang asyik, ia menyampaikan wawasannya kepada peserta diskusi:
“Belum ada literatur dan bukti sejarah yang kuat untuk menunjukkan asal mula olahraga sepakbola hadir di Indonesia. Hingga saat ini, ada dua dugaan kuat yang menunjukkan asal muasal olahraga tersebut. Pertama, sepak bola di Indonesia berawal saat para pedangang dari Tiongkok sekitar abad 7 M yang berlabuh di wilayah kerajaan Sriwijaya, dan mengenalkan permainan sepakbola. Kedua, sepak  bola dibawa masuk ke Indonesia oleh pedagang Belanda yang masuk ke wilayah nusantara sekitar abad 16 M.

Minggu, 11 September 2011

“Awan Dollah dan Malam Takbiran"


thomedison.com


Oleh. Bung Yaumil F Gayo

Kutembus waktu begitu aku memasuki kampung halamanku, tempat dimana aku dilahirkan dan kenangan yang tak dapat beranjak sedikit pun dari ingatan. Sepuluh tahun telah berlalu dan kini aku akan menemui lebaran di kampung halamanku setelah waktu dan jarak begitu lama telah terpisah.

Selesai aku mengorek segala nostalgia dengan gunung yang gagah nun indah, danau yang terbentang begitu pasrahnya, udara dingin yang saling mencintai, sungai-sungai yang merayap bernari tak mau tenang dan rumah di bukit-bukit bercucul mengintip seolah ingin tahu. Aku yakin negeri kampung halamanku ini adalah negeri surga picisan di atas awan. Daerah yang hanya pada lebaran saja orang akan membludak, tidak di hari biasa.

Kutuju sebuah Meunasah atau Masjid kecil kampung tempat aku mengaji dan menimba ilmu agama, saat dulu kala ketika aku masih kecil. Kuputar ingatan; dari 360 hari, ada satu hari yang sangat kami tunggu-tunggu: Malam Takbiran. Kami sangat bahagia ketika malam takbiran tiba, selain begitu ramainya tempat kelahiranku dimana semua keluarga kembali saling temu, selain suara takbir berkumandang dan selain mercon-mercon saling bersahutan. Selain kami anak kampung mendapatkan baju baru dan selain kebahagian itu semua, kami kembali akan bertemu dengan seorang kakek yang sangat kami kagumi dan sangat kami sukai hikayat-hikayatnya, kami memangilnya;
“Awan Dollah..”


Suara Itu Sungguh....

Lovegayo.com


Oleh: Bung Yaumil F Gayo

Perjalanan menuju Pariaman tidaklah begitu berat, hanya menempuh jarak sekitar 500-an KM atau ditempuh kurang lebih selama sekitar 11 jam dari kotaku. Aku belum pernah kesana dan tidak pernah terfikir akan kesana. Daerah itu terkenal dengan perdagangannya yang luar biasa, ketika pekan menghampiri maka berjibun-jibun banyaknya orang datang. Aku kurang suka dengan keramaian, namun ketika adikku meminta untuk menemaninya ke Desa Koto Marapak yang terletak di Pariaman Tengah aku langsung mengiyakan permohonannya. Aku akan menemaninya untuk menemui keluarga dari sahabat lamanya yang telah tiada.

“Adik harus menyampaikan amanah ini abanganda, karena ini titipan terakhir dari sahabat terdekat adik untuk keluarganya.”

Tak lah susah mencari alamat desa tersebut, bus yang kami tumpangi langsung berhenti di ujung desa. Desa Koto Marapak terasa begitu dekat dan tak asing bagiku. berjejer rumah panggung menyambut kedatangan kami ketika akan memasuki desa yang masih sepi ini. Tepat pukul setengah enam, Adzan mengumandang.

Aku terdiam, sungguh indah suara Adzan itu. Bernari memasuki daun telinganku. Langsung menuju hati dan tenanglah rasanya jiwa ini. Rasa capek di perjalanan hilang sudah, terbayar tuntas-lunas. Seperti isak tangis disana, memecah lamunan yang beku-kaku akan rindu. Ingin secepatnya aku menghadap.

“Kenapa engkau menangis, adikku?”


Sabtu, 10 September 2011

Kami Pun Bertambah…


Langkah Awal

Dalam ilmu Biologi, ciri-ciri makhluk hidup diantaranya adalah; bergerak, tumbuh dan berkembang. Tanpa memenuhi ketentuan itu, sesuatu tidak dapat dikatakan makhluk hidup. Begitu juga dengan kami, Langkah Awal, yang terus berusaha agar tetap hidup: bergerak, tumbuh dan berkembang. Memang Langkah Awal bukanlah salah satu jenis dari makhluk hidup. Tapi harapan kami untuk bisa memberikan sesuatu  kepada lingkungan sekitar, kiranya memiliki makna yang hampir sama dengan benda yang hidup.
Definisi hidup untuk Langkah Awal memanglah tidak sama dengan arti hidup sebenarnya. Begitu juga dengan makna ‘bergerak, tumbuh dan berkembang’. Bagi kami, bergerak ialah tidak berhenti berpikir dan menulis, walau masa liburan menghampiri ITS 2 bulan lamanya. Berdiskusi dan bedah film tetap menjadi aktivitas rutin mingguan.

Siapa Kata, Pengkaderan Milik Kita?


Krishna Leo Parista-alumni arsitektur '05
Oleh: Tim Redaksi Langkah Awal

Pengkaderan bukanlah OSPEK, pengkaderan juga bukan latihan ala militer yang penuh bentakan dan hukuman. Pengkaderan seutuhnya berbicara tentang bagaimana membentuk dan mendidik seseorang dalam menghadirkan keutuhan nilai-nilai manusiawi di dalam sisi pikiran dan perbuatan. Agar si kader mampu bersikap dengan segala landasan dan prinsip-prinsip kebenaran. Tentunya pengkaderan takkan bisa dibatasi oleh waktu.
Pengkaderan merupakan masalah yang paling disorot di ITS. Ajaran baru telah datang, mereka yang lalu masih disebut dengan siswa, kini akan menjadi mahasiswa. Namun, tahukah mereka makna menjadi seorang mahasiswa? Itulah salah satu alasan adanya pengkaderan. Pengkaderan bukan perpeloncoan atau malah jadi ajang balas dendam senior kepada mahasiswa.

GENERASI PENERUS atau GENERASI PERUBAH


Oleh: Bung Imot*
Negara itu sudah Hampa
Negara itu di ambang keruntuhan
Dalang tua mungkin salah cerita
Dalang tua mungkin juga lupa

Sudah ada pengganti dalang tua
Menjadi penerus pengatur cerita Negara
Menjadi antek si dalang tua
Namun tetap saja

Rabu, 07 September 2011

Kaderisasi

Krishna Leo Parista-alumni arsitektur '05

Oleh: Bung Henry*
“Vivat!!! Hidup Sipil, hidup sipil, hidup ITS!”
“Hidup mahasiswa!”
Hal-hal yang diucapkan seperti di atas telah mengawali perjalanan mahasiswa ITS dalam mengarungi lautan kaderisasi di jenjang perguruan tinggi. Dengan latar belakang yang beragam, mahasiswa seolah berbicara dalam frekuensi yang sama, bahasa yang sama, yakni bahasa mahasiswa. Pendidikan dan wawasan kebangsaan yang luas, menjadi modal wajib mahasiswa untuk memulai perjalanannya menyusuri lembah-lembah kehidupan. Menyusuri satu persatu kondisi-kondisi sosial yang beragam. Bermodalkan ketulusan mencoba menganalisa beban yang dipikul oleh bangsa ini. Dan berusaha mewujudkan suatu tatanan kehidupan ideal yang tentunya berada dalam haluan UUD’45 dan Pancasila.
“Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat”

Tiadanya lagi Pembantu di ITS


flickr.com
Oleh: Bung Samdy*

Sebagaimana lazimnya sebuah institusi, ITS punya undang-undang dasar, namanya Statuta ITS. Kalau dibandingkan dengan sebuah negara, fungsi statuta ialah sebagai norma dasar yang dijadikan acuan bagi aturan-aturan di bawahnya.  

Dalam Statuta ITS—yang disahkan Mendikbud tahun 1992—tercantum segala macam aturan, dari peran-fungsi senat hingga ukuran pataka ITS. Meski ada juga kelemahannya misalnya ketidaktegasan mendefinisikan suatu pasal. Ambil contoh Pasal 59 yang menyebutkan mahasiswa ITS harus “berdisiplin, bersikap jujur, bersemangat, bertanggung jawab, dan menghindari perbuatan yang tercela, antara lain plagiat”.

Mereka yang Mati Muda**


jimmintarja.com

Oleh: Bung Rafli*
Kelahiran tiap manusia di dunia ini tentulah bukan kehendak pribadi masing-masing. Tidak ada yang mengira ataupun memprediksikan bahwa si A akan lahir di sini, dalam keadaan yang seperti ini, dan akan memiliki jalan hidup yang begini.
Tak ayal hal seperti inilah yang membuat para filsuf terus bertanya dan mencari tentang hakikat hidup seorang manusia di dunia. Seperti pertanyaan yang diajukan Socrates, “Kenalilah dirimu sendiri. Siapakah kita ini, manusia, makhluk kecil yang nampak tiada bermakna di tengah alam raya yang maha luas?”

Laksamana Itu Bernama Keumala Hayati


agakmnisw.com

Oleh: Bung Yaumil*
Tentang Perempuan Itu;
Selendang panjangnya tergurai, matanya menatap tajam ke segala penjuru laut, dialah laksamana perempuan pertama di dunia. Dari atas haluan Galleys Al Lathiif dia berteman dengan ombak dan angin-angin samudra yang berseru; perempuan itulah penguasa lautan dan lelangitan biru menjadi saksi atas keganasannya menumpas penjajah. Ya…seorang pahlawan dari Alam Dzulfikar Kerajaan Darud Donya Darussalam—salah satu kerajaan besar di Nusantara yang terletak di Semenanjung Barat Laut Sumatra.
Keumala berasal dari kalangan Sultan atau bangsawan Aceh. Ayah Keumala bernama Mahmud Syah, sedangkan kakek dari garis ayahnya bernama Sultan Salahuddin Syah yang memerintah sekitar tahun 1530-1539 M. Adapun Sultan Salahuddin Syah adalah putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughyat Syah (1513-1530) yang merupakan pendiri kerajaan Aceh Darussalam. (Manuskrip M.S Universitas Malaysia dan Rusdy Sufi, 1994: 30-33)

Sanctum; Gua Dari Segala Gua


Oleh: Bung Yaumil*
Sebuah film beraliran thriller yang berhasil menyajikan petualangan gua bawah tanah yang menghubung ke laut dengan spektakuler. Seperti yang dibuktikan Titanic (1997) dan Avatar (2009), tampilan audio visual yang begitu memukau memegang peranan yang sangat penting dalam setiap film yang melibatkan nama James Cameron (Produser Eksekutif) faktor yang tidak dapat disangkal menjadi titik penting penghasil aliran emosi di dalam jalan cerita film tersebut.
Malam semakin gegap gempita, peserta diskusi masih penasaran kisah apalagi yang akan dihadirkan dalam pemutaran film Sanctum, tak banyak peserta diskusi kebebasan berfikir yang hadir namun cukup untuk membedah sebuah film Hollywood dengan banyaknya memberi pesan-pesan yang luar biasa; kisah nyata yang mengharukan dan tak dapat sedikit pun ditebak jalan ceritanya.

Sejumput Sutasoma


limitdoesntexist.wordpress.com

Oleh: Bung Donny*
Sekolah dasar, salah satu tempat di mana kita telah meneguk segarnya ilmu. Masa di mana kita masih asyik menghabiskan waktu dengan bermain. Tak dinyana, dalam usia yang masih begitu belia tersebut kita sudah diperkenalkan dengan sesuatu yang menurutku luar biasa. Sepenggal isi dari Kitab Sutasoma yang menjadi semboyan Bangsa Indonesia: “Bhineka Tunggal Ika”.
Bhineka Tunggal Ika, rangkaian kata itu cukup mudah menyihir kita yang masih duduk dalam bangku sekolah dasar. Berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Sebuah mantra yang mampu menyatukan keberagaman atau kemajemukan Bangsa Indonesia, setidaknya itu yang ada dalam pikiranku waktu itu. Aku pikir bangsa ini benar-benar terinspirasi dengan suatu kerajaan yang pernah berjaya di nusantara. Yang terkenal dengan patih Gajah Madanya. Majapahit. Di sana lah, di Majapahit, rangkaian kata mutiara penuh makna itu lahir.

Mahasiswa yang Mahal


kampus.okezone.com

Oleh: Bung Ucup*
“Haduh...besok senin sudah masuk kuliah, kok sebentar sekali ya? semoga saja diundur.”
Ungkapan yang berisi keluhan dan harapan seorang mahasiswa yang secara tidak sengaja melompat keluar dan terdengar oleh alam. Begitukah ungkapan seorang mahasiswa yang masih ingin berlibur panjang? Apa sudah bosan? Untuk kembali ke bangku kuliah di dalam ruangan ber-AC dan dididik oleh pengajar-pengajar yang berderet titel disematkan pada namanya.

Chico Mendes; Perlawanan dalam Hutan Amazon untuk Dunia


historica.com.br
Oleh: Bung Rafli*

Pada awalnya Chico Mendes tidak pernah sadar dan tidak pernah berniat untuk menyelamatkan dunia. Ia hanya melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dialami dan dirasakan selama hidup menjadi penyadap karet di dalam hutan hujan Amazon. Ia tergerak dari penindasan dan eksploitasi berlebihan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang berkepentingan di Brazil—termasuk pemerintahannya yang korup. Hati nuraninyalah yang membuat Chico Mendes, seorang yang tidak pernah bersekolah, menjadi pahlawan dunia, pahlawan hutan hujan tropis.