Senin, 06 Juni 2011

Peristiwa Malari (Malapetaka lima Belas Januari) 1974

Dipublikasikan juga di buletin Langkah Awal, Edisi 7 (30 Mei – 12 Juni 2011) dan catatan akun FB: Langkah Awal-ITS
Oleh: Bung Didin*
Salah satu catatan tentang sejarah kelam bangsa Indonesia terjadi pada tanggal 15 Januari 1974, dimana sebuah kerusuhan terjadi di ibu kota Jakarta yang sampai saat ini masih belum terungkap jelas siapa dalangnya. Peristiwa yang diduga perseturuan antara asisten pribadi Presiden, Ali Moertopo dengan Pangkomkamtib, Soemitro ini menyebabkan 11 orang meninggal, ratusan orang luka-luka dan ditangkap, terjadi banyak pengrusakan bangunan dan kendaraan serta 160 kg emas hilang.

Peristiwa ini juga dikaitan dengan mahasiswa, dimana pada waktu itu aksi masa menentang modal asing oleh mahasiswa yang 4 tahun sebelumnya telah marak dalam menetang kebijakan pemerintah.
Di awal 1970-an mahasiswa melihat ketidak seimbangan pemilu, Arif Budiman dan Buyung Nasution mengangkat isu Golput. Sedangkan tahun 1971, partai – partai politik di “berantas”, hal yang sama terjadi pada pers yang saat itu banyak mengkritisi kinerja pemerintah. Di tahun yang sama muncul wacana NKK-BKK yang cukup panas.
Pada tahun 1972 mencuat isu modal asing dan naiknya harga minyak. Sehingga tahun 1973 muncul gerakan “Mahasiswa Menggugat”. Pertengahan Oktober 1973 diadakan rapat mahasiswa di UI dalam rangka memperingati hari sumpah pemuda yang menghasilkan “Petisi 24 Oktober” yang berbunyi; Pertama, mengingatkan peninjauan strategipembangunan sehingga keseimbangan bidang sosial, politik, dan ekonomi yang anti kemiskinan. Kedua, meminta agar rakyat segera dibebaskan dari ketidakpastian hukum, merajalelanya korupsi dan penyelewengan kekuasaan, kenaikan harga dan pengangguran. Ketiga, lembaga penyalur pendapat masyarakat harus kuat dan berfungsi.
Menteri Pembangunan dan Kerjasama Belanda yang juga ketua Inter-Governmental Group Indonesia (IGGI), Drs. Jan P. Pronk tiba di Jakarta, 11 November 1973. Tanggal itu dijadikan momentum untuk demonstrasi anti modal asing oleh para mahasiswa dalam “Gerakan Mahasiswa Indonesia Untuk Indonesia.”
Dan tanggal 10 Januari 1974 mahasiswa menggelar aksi yang mendeklarasikan “Tritura” yaitu pembubaran dwifungsi ABRI, penurunan harga-harga dan pemberantasan korupsi. Presiden Suharto menerima delegasi mahasiswa tanggal 11 Januari 1974 yang dikomando Dewan Mahasiswa UI, Hariman Siregar. Dalam pertemuan itu delegasi dari mahasiswa menyampaikan “Petisi 24 Oktober 1973” dan dibalas Suharto dengan senyum ramahnya. PM Jepang Kokuei Tanaka tiba di Indonesia pada 14 januari 1974, hal ini dijadikan momentum oleh mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi. Maka, pada malam harinya diadakan rapat DM se-jawa untuk menggalang aksi.
Pada tanggal 15 januari 1974 mahasiswa melakukan aksi, yaitu long march dari Universitas Indonesia menuju Kampus Trisakti Grogol melewati Monas dan aksi tersebut diikuti 500-an massa mahasiswa dan pelajar.
Kemudian di manakah peristiwa Malarinya? Peristiwa ini banyak disebut juga peristiwa yang sama dengan aksi mahasiswa. Namun 2 kejadian ini merupakan hal yang berbeda—tujuan dan massanya. Peristiwa Malari menggambarkan kerusuhan dimana memiliki tujuan dan massa yang tidak jelas asal usulnya. Menurut catatan mantan Rektor UI, Prof. Mahar Mardjono, “bakar-bakaran sudah terjadi sekitar pukul 11.00 wib, sedangkan mahasiswa masih melaksanakan Aksi di Kampus Trisakti Grogol. Aksi mahasiswa juga berakhir pada siang hari sedangkan kerusuhan masih berlangsung saat sore. Tempat berlangsungnya kejadian pun jelas sangat berbeda, dimana Aksi di laksanakan di UI dan Trisakti sedangkan kerusuhan terjadi di pasar senen.”
Sampai sekarang belum ada kejelasan siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa Malari. Sejarah yang begitu gelap, banyak pendapat tentang dalang peristiwa ini namun tidak memiliki bukti yang otentik. Seperti pendapat Soemitro yang  menyebutkan “para pemain” Malari adalah Opsus, CSIS, tokoh GUPPI—ormas Islam yang direkrut Ali Moertopo untuk memenangkan Golkar dalam Pemilu 1971, dan sejumlah massa binaan Ali Moertopo yang terdiri dari preman, tukang becak dan mantan DI/TII. Sedangkan Menurut Ramadi dalam “dokumen Ramadi” mengungkap rencana Soemitro menggalang kekuatan di kampus-kampus, “Ada seorang Jenderal berinisial S akan merebut kekuasaan dengan menggulingkan Presiden sekitar bulan April hingga Juni 1974. Revolusi sosial pasti meletus dan Pak Harto bakal jatuh”. Ramadi saat itu dikenal dekat dengan Soedjono Humardani dan Ali Moertopo. Tudingan itu tentu mengacu kepada Soemitro.
Akibatnya adalah pembrendelan 12 koran dan majalah di Jakarta, Bandung, Surabaya dan Makassar yaitu; Indonesia Raya, Pedoman, Abadi, Harian KAMI, Nusantara, Jakarta Times, Mingguan Wenang, Pemuda Indonesia, Majalah Ekspress (Jakarta), Suluh Berita (Surabaya), Mingguan Mahasiswa Indonesia (Bandung), dan Indonesia Pos (Ujung Pandang). Laksus Kopkamtib Jaya di Jakarta juga mencabutan surat ijin cetak.
Penangkapan tidak bisa di hindari, diantaranya Hariman Siregar, Gurmilang Kartasasmita, Theo L. Sambuaga, Bambang Sulistomo,Purnama dan Salim Hutadjulu merupakan nama-nama yang masuk dalam gelombang penangkapan pertama. Lalu disisul Dorodjatun Kuntjoro-Jakti. Penangkapan berikutnya dilakukan kepada Fahmi Idris, Sugeng Sarjadi, Marsillam Simandjuntak, Adnan Buyung Nasution, H.J.C. Princen, Imam Waluyo, Jusuf A. R. , Jesse A. Monintja, Laksamana Muda Mardanus dan Purnama. Sejumlah tokoh yang dikaitkan dengan Partai Sosialis Indonesia ikut ditangkap seperti Prof. Sarbini Somawinata, Soebadio Sastrosatomodan Moerdianto. Gelombang berikutnya adalah Sjahrir, Rahman Tolleng, Soemarno dan Ramadi. Terakhir ditangkap Mochtar Lubis sebagai Pimred Indonesia Raya.
Bagi Suharto, Peristiwa ini dijadikan untuk menguji loyalitas orang-orang disekitarnya dan pembuktikan bahwa dialah pemegang tambuk kekuasaan. Bagi mahasiswa, Malari justru menjadi suatu titik balik, karena mahasiswa di anggap sebagai dalang kerusuhan. Sejak saat itu hubungan antara Presiden dan mahasiswa menjadi tidak harmonis lagi, sisi lainnya mahasiswa menjadi independen dan mandiri.
Sejarah kelam bangsa kembali tercatat, kali ini musuhnya adalah saudara sebangsa, api perjuangan mahasiswa mulai meredup dan dihantam hilangnya kepercayaan masyarakat. Di ambillah kesepakatan oleh zaman dan situasi bahwa mahasiswa harus skeptis dan menjadi pelajar murni. Namun pastinya tidak sesederhana itu untuk membengkokkan kaum moralitas, karena perjuangan itu abadi, kawan.
Telah didiskusikan pada hari Rabu (25/4) di pelataran BAPSI ITS
*Syayhuddin Sholeh-Teknik Sipil ITS

2 komentar:

  1. izin share ya trma kasih sukses slalu jaya indonesia

    BalasHapus
  2. izin share ya trma kasih sukses slalu jaya indonesia

    BalasHapus

Redaksi langsung menghapus komentar yang tidak mencantumkan nama penulis komentar (anonim)!