Minggu, 15 Mei 2011

Timor Timur dan Gerakan Separatis

Oleh: Bung Samdy*
Timor Timur mungkin akan terus tercatat sebagai salah satu cerita kelam bangsa ini. Masih belum lekang dari ingatan provinsi ke-27 Indonesia itu lepas dari NKRI setelah jejak pendapat pada Agustus 1999 lalu. Tapi ada pepatah dalam bahasa Latin yang artinya kurang lebih “sejarah adalah guru kehidupan”. Timor Timur hendaknya menjadi pelajaran bagi bangsa kita agar kejadian yang sama tidak terulang lagi. Dalam rangka inilah diadakan diskusi pada 6 Mei lalu di mana Bung Donny bertindak sebagai pengantar wacana.
Menurut Bung Donny yang mengutip buku Petite Histoire karya Rosihan Anwar, Portugis datang ke Pulau Timor tahun 1512, awalnya untuk berdagang. Lambat laun mental penjajah menjangkiti Portugis sehingga mereka menguasai dan memonopoli perdagangan pulau yang kaya dengan cendana itu. Tidak hanya Portugis, abad 19 Belanda pun datang sehingga menggangu hegemoni Portugis. Akhirnya, kedua bangsa Eropa itu sepakat untuk membagi pulau Timor menjadi dua bagian: wilayah Barat milik Belanda dan Timur milik Portugis. Timor bagian timur inilah yang kemudian dikenal sebagai Timor Timur.
Situasi politik di Portugis pada tahun awal 1970 membawa implikasi pada daerah jajahannya. Dampak “Revolusi Bunga” di Portugal menjadi nilai positif bagi Timor Timur dengan hadirnya wacana dekolonisasi dan demokratisasi. Kondisi ini dimanfaatkan untuk mendirikan partai politik. 11 mei 1974 maka berdirilah beberapa partai politik saat itu yang berdasarkan visinya dapat dibagi tiga: Fretilin, UDT, dan Apodeti. Fretilin menghendaki wilayahnya merdeka dari Portugis; UDT tetap mempertahankan status tanah jajahan; Apodeti menginginkan integrasi dengan Indonesia.
1975 Perbedaan itu menyebabkan perang saudara yang membuat UDT dan Apodeti bersatu berhadapan dengan Fretilin. Akibatnya, Amerika Serikat dan Australia meminta Indonesia melakukan intervensi militer. Dengan bantuan Indonesia ini, Fretilin dapat dikalahkan sehingga kesampaianlah keinginan Apodeti dan UDT untuk bergabung dengan Indonesia. Timor Portugis kemudian berganti nama menjadi Timor Timur dan menjadi provinsi Indonesia ke-27.
Namun, Fretilin tidak tinggal diam. Mereka melakukan pemberontakan bersenjata untuk mencapai tujuan mereka: merdeka. Rupanya, kondisi sosial di Timor Timur dan perilaku menyimpang TNI di sana membuat dukungan penduduk kepada Fretilin meningkat. Puncaknya, insiden penembakan di pemakaman Santa Cruz November tahun 1991 membuat masalah Timor Timur dibawa ke ranah internasional.
Manuver Portugis di PBB membuat pemerintah Indonesia kesulitan. Ditambah tekanan Amerika Serikat dan Australia, masalah Timor Timur akhirnya diselesaikan lewat jejak pendapat. Hasilnya, rakyat Timor Timur memilih merdeka dengan suara 78,5 persen berbanding 21,5 persen yang ingin bergabung dengan Indonesia. 20 mei 2002 telah lahir Negara baru bernama Republik Demokratik Timor Leste
Demikian sedikit cuplikan artikel “Timor Timur: Daya Tarik Kayu Cendana” pada buku Petite Histoire Jilid 1.
Spekulasi Lepasnya Timor Timur
Timbul pertanyaan: mengapa Portugis paling lantang bersuara membela Timor Timur? Bung Donny berspekulasi bahwa Portugis sebenarnya ingin memperbaiki nama baiknya yang telah gagal ketika Timor Timur berada dalam aneksasinya. Penjajahan selama 450 tahun tentu membuat nama mereka jelek di negeri bekas jajahan tersebut.
Peserta diskusi Bung Yaumil justru mencium aroma konspirasi. Menurutnya, petinggi Fretilin Xanana Gusmao adalah keturunan Portugis sehingga dia menjadi semacam “anak asuh” alias dipelihara oleh Portugis untuk mencapai kemerdekaan Timor Timur.
Pendapat Bung Arif lain lagi. “Timor Timur memiliki kekayaan alam luar biasa,” katanya, “ sehingga negara-negara Barat termasuk Portugis ingin mendapatkan keuntungan jika Timor Timur lepas dari Indonesia.” Ia bahkan mencontohkan di dunia ini tidak ada orang yang baik. “Setiap orang punya kepentingan,” tambahnya.
Bung Yaumil kembali melanjutkan teori konspirasinya. Menurut info yang diperolehnya, Ada 7 orang Timor Timur yang kuliah di Portugal saat awal-awal “pendudukan” Indonesia. Ketika pulang, mereka mendapati tidak ada perbaikan berarti di Timor Timur. Salah satu di antaranya adalah Ramos Horta yang sekarang menjabat Presiden Timor Leste.
Kekayaan Timor Timur sebenarnya sangat minim. Kondisi inilah yang membuat segelintir orang di Indonesia ingin Timor Timur dilepas. Tapi Bung Imot tidak sependapat dengan pernyataan ini. “Apakah karena tidak punya SDA lantas dilepaskan begitu saja?” tanyanya pada peserta diskusi. Bung Arif langsung menimpali. “Bukan itu, penyebabnya adalah karena Timor Timur tidak punya faktor historis yang kuat dengan Indonesia.”
Seperti kita ketahui, wilayah yang dinamakan Indonesia saat ini adalah bekas wilayah jajahan Belanda. Ketika merdeka, otomatis  wilayah jajahan itu serentak—kecuali Papua yang baru berhasil diperjuangkan tahun 1962—berganti nama menjadi Indonesia. Tidak demikian halnya dengan Timor Timur yang merupakan jajahan Portugis dan itu pun bergabung karena desakan AS dan Australia.
Menurut Bung Samdy, desakan itu tidak bisa dilepaskan dari konteks Perang Dingin. AS dan Australia takut apabila Timor Portugis jatuh ke tangan Fretilin yang komunis bukan tidak mungkin negara-negara lain di sekitarnya bakal kena pengaruh komunisme. Soeharto dianggap mampu menghindarkan kemungkinan terburuk tersebut karena keberhasilannya dalam menumpas Partai Komunis Indonesia tahun 1965.
Bung Yaumil menyebut separatis itu murni karena faktor ketidakpuasan. Kelompok seniman indie misalnya juga separatis meski tidak bersenjata. Tapi, bagimanakah bibit-bibit separatis itu? Bung Arif menilai separatis memiliki fitrah kesombongan seperti yang dimiliki Tuhan. “Maksudnya, bukan sombong seperti dipahami orang (berpakaian misalnya.red), tapi keyakinan bisa melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain,” tambahnya. Bung Samdy menyebutnya “superiority complex”.
Diskusi kemudian menyerempet hingga ke gagasan “negara federal”-nya Bung Imot; intelektual di negara berkembang dan maju yang dibicarakan Bung  Yaumil. Tapi tulisan ini tentu tidak cukup untuk menggambarkan keseluruhan hasil diskusi malam itu. Dengan kebebasan berfikir yang dimiliki setiap individu. Jumat malam menjadi hari yang bersejarah bagi peserta diskusi dalam memoriam masa lalu. Bahwa Timor Timur adalah misteri dari sejarah kelam bangsa Indonesia.
Didiskusikan pada hari Jumat, 6 Mei 2011 di pelataran BAPSI ITS
*Samdysara Saragih-Teknik Fisika ITS
Dipublikasikan juga di buletin Langkah Awal, Edisi 6 (16 29 Mei 2011)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Redaksi langsung menghapus komentar yang tidak mencantumkan nama penulis komentar (anonim)!