Jumat, 23 September 2011

Pendidikan, Pendidikan, dan Pendidikan!


womenisbasketball.blogspot.com
Oleh: Bung Imot*
Pendidikan seharusnya merupakan usaha yang sadar, tanpa tekanan tetapi dengan kebebasan. Tak sedikit dari peserta didik saat ini mengenyam pendidikan dengan tekanan. Entah tekanan dari orang tua, kondisi sekitar, ataupun dari tempat dia berkumpul dan berkegiatan pendidikan secara formal—biasa kita sebut sekolah.
Mungkin karena orang tua yang sayang dengan buah hatinya dan ingin melihat si buah hati hidup bahagia kelak. Dia selalu berusaha untuk menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya. Usaha yang sangat mulia dan mengharukan, bertujuan agar anak-anaknya tak sebodoh bapak dan ibunya. Namun sering kali usaha tersebut memaksakan si anak. Dan mengancam kebebasan untuk memilih sendiri jalur pendidikan yang disukai dan sesuai dengan otak.
Media, salah satu pihak yang paling bertanggung jawab tentang perkembangan dan kondisi masyarakat sekitar. Sekarang banyak media pertelevisian yang menyiarkan orang-orang kaya, mobil-mobil mewah, dan juga rumah-rumah megah. Itu semua diperoleh dari bekerja. Untuk mendapatkan pekerjaan pun membutuhkan Ijazah yang resmi. Sehingga terjadi perubahan haluan tujuan pendidikan. Yang awalnya mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi memperkaya diri. Seakan-akan pendidikan resmi hanya sebagai syarat untuk mencari sesuap nasi bahkan sekarung berlian. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang telah diraih akan menjamin semakin banyak kekayaan yang didapat. Begitu sebaliknya, semakin rendah jenjang pendidikan yang mampu diraih maka sedikit pula kekayaan yang didapat. Seperti itu kebanyakan yang terjadi di negara Indonesia ini.
Dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, setelah itu sudah. Tidak begitu yang seharusnya dari sebuah pendidikan. Doktrin itu muncul karena adanya jalur pendidikan yang formal saat ini. Sehingga orang-orang yang tidak bisa menempuh pendidikan formal sering disebut orang tak berpendidikan. Padahal pendidikan yang terjadi adalah dari lahirnya seorang anak manusia hingga dia menghembuskan nafasnya untuk terakhir kali.
Bicara tentang pendidikan, sesuatu yang tidak akan pernah habisnya. Selalu ada saja yang membuat gelisah tentang pendidikan di kampung nusantara ini. Dari sistem pendidikannya hingga pelaku pendidikannya.
Untuk melihat keberhasilan pendidikan di suatu negara adalah dari sistem pendidikan yang diterapkan di sana. Di Negara yang sangat kita banggakan—Indonesia—ini bisa dikatakan belum mempunyai sistem pendidikan yang pasti. Sering sekali terjadi perubahan-perubahan. Apalagi untuk masalah kurikulum, empat tahun sekali terjadi perubahan kurikulum. Dan itu yang sering juga membuat para pelaku pendidikan bingung. Dari yang awalnya sudah terbiasa dengan kurikulum yang dijalani, setelah itu dirubah lagi. Memulai untuk membiasakan dengan kurikulum baru. Begitu seterusnya.
Membahas sebuah sistem pendidikan sangat luas sekali. Sepenggal dari sistem pendidikan adalah sistem dari penilaian sebuah jalur pendidikan formal. Di kampus  Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) serasa terjadi penurunan kualitas. Dari cerita terdahulu, susah sekali untuk mendapatkan nilai memuaskan di kampus ini. Seakan-akan sudah lulus dengan nilai apapun sangat bersyukur sekali. Sehingga tak jarang mahasiswa yang terlambat lulus. Berbeda dengan yang dirasakan sekarang, tidak mengerti pun bisa mendapatkan nilai tinggi. Sangat disayangkan hal seperti itu. Mungkin terjadi sebuah penurunan kualitas sistem penilaiannya atau juga sudak tidak ada niat lagi dari peserta didiknya. Dan juga banyak sekali yang lulus lebih cepat. Belum mengerti maksud dari penggampangan lulus ini. Entah untuk meningkatkan pamor kampus atau ada maksud lain.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat (wikipedia).
Dapat dikutip pada kalimat pertama: “Pendidikan adalah usaha yang sadar.Buat apa memaksakan untuk belajar sedangkan peserta didik tidak mau, begitu sebaliknya untuk apa memaksakan belajar sedangkan pengajar tidak ingin.
*M Rifqy – Mahasiswa T Sipil ITS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Redaksi langsung menghapus komentar yang tidak mencantumkan nama penulis komentar (anonim)!