Rabu, 07 September 2011

Chico Mendes; Perlawanan dalam Hutan Amazon untuk Dunia


historica.com.br
Oleh: Bung Rafli*

Pada awalnya Chico Mendes tidak pernah sadar dan tidak pernah berniat untuk menyelamatkan dunia. Ia hanya melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dialami dan dirasakan selama hidup menjadi penyadap karet di dalam hutan hujan Amazon. Ia tergerak dari penindasan dan eksploitasi berlebihan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang berkepentingan di Brazil—termasuk pemerintahannya yang korup. Hati nuraninyalah yang membuat Chico Mendes, seorang yang tidak pernah bersekolah, menjadi pahlawan dunia, pahlawan hutan hujan tropis.


Menjadi penyadap karet tentu bukan keinginan pribadi seorang Chico Mendes. Ia tidak pernah berharap untuk dilahirkan dalam hutan Amazon, mengalami penindasan dan penyiksaan sekian tahun lamanya, melakukan perlawanan bersama anggota perserikatan, dan menjadi ancaman serius bagi para pengembang lahan dan pemerintah. Pada akhirnya, sejarahlah yang membuktikan bahwa kelahirannya di Acre, sebuah provinsi di negara bagian Xapuri Brasil yang sebagian wilayahnya terdiri dari hutan Amazon, memiliki arti yang sangat dalam bagi keberlangsungan hidup umat manusia.
Chico Mendes lahir pada tanggal 15 Desember 1944. Ayahnya adalah salah satu dari ratusan pemuda yang dibawa dari timur laut Brazil menuju Acre untuk mengumpulkan karet guna memenuhi kebutuhan perang dunia ke II. Sekitar tahun 1945, perang dunia ke II berakhir, hal itu membuat kebutuhan akan karet menurun, beberapa orang harus berjuang keras untuk bisa kembali ke daerah asalnya yang berjarak kurang lebih 2000 mil (3200 km).  Sedang beberapa orang lainnya, yang tak sanggup keluar dari Acre, terpaksa menetap di dalam Amazon dan terus menjadi penyadap karet. Seringueiro adalah sebutan bagi mereka para penyadap karet di Amazon dan Chico Mendes adalah generasi kedua seringueiro di hutan Amazon, Acre, Brasil.
Chico Mendes menjadi seringueiro sejak umur 9 tahun. Ia tidak pernah mengenyam bangku pendidikan, karena memang para cukong melarang adanya fasilitas pendidikan di daerah tersebut. Agar masyarakat seringueiro tidak protes ketika para cukong membohonginya tentang jumlah berat timbangan getah karet yang dikumpulkan seringueiro dari pedalaman Amazon.  Hal itulah yang menyebabkan Chico Mendes buta huruf dan angka sedari kecil. Beruntung Chico Mendes bertemu dengan Euclides Fernández Távora saat usianya menginjak 14 tahun, ia mulai belajar membaca, menulis, dan menghitung angka bersamanya, majalah dan koran lama yang dibawa oleh Tavora menjadi bahan pembelajaran yang berarti bagi Chico Mendes. Pandangan Chico Mendes terhadap dunia luar semakin terbuka dengan radio lama yang dibawa oleh Travora.
Chico Mendes adalah salah satu anak dari 17 bersaudara, hanya 6 orang anak yang mampu bertahan hidup. Di Acre tidak tersedia fasilitas medis yang memadai, koran A Provincia Lakukan Para memberitakan bahwa dari 50.000 orang yang terdaftar sebagai penyadap karet ketika perang dunia ke-II berlangsung, 23.000 orang diantaranya meninggal akibat kekurangan makanan dan tidak adanya pertolongan medis. Bapa Turrini, seorang misionaris juga mencatat bahwa ada 838 dari 1000 anak yang meninggal sebelum menginjak usia 1 tahun di Acre.
Pada awal 1970’an, pemerintah Brazil yang dipimpin oleh Emilio Medici mengembangkan kebijakan baru untuk membuka lahan di Amazon guna memenuhi kebutuhan daging sapi. Pemerintah korup itu bekerja sama dengan peternak sapi setempat dalam membuka lahan di Amazon. Ratusan hektar hutan Amazon dibakar habis dalam usahanya untuk membuka lahan peternakan sapi. Juga ratusan pohon ditebang guna pembuatan jalan yang memudahkan para peternak sapi mendapatkan akses transportasi. Kebijakan pemerintah Brazil tersebut terkenal dengan slogan, “the land without man to man without land.”
Para politikus yang memerintah saat itu menutup matanya dan menjadi buta akan kondisi sosial yang sebenarnya terjadi dalam Amazon. Ada puluhan suku penduduk asli, ratusan seringueiro, dan penduduk lainnya yang mengalami kemiskinan luar biasa. Apalagi ditambah dengan ditebangnya pohon-pohon di Amazon, niscaya membuat mata pencaharian satu-satunya penduduk Acre terkikis habis.
Perlawanan yang dilakukan oleh para seringueiro dimulai dari ceramah misionaris di gereja setempat. Mereka menjelaskan hak-hak dasar para seringueiro yang harus dibela mati-matian. Agar tanah yang selama ini menompang hidup mereka tidak dirusak oleh segelintir orang dengan keuntungan ekonomi yang singkat. Pada tahun 1975 berdiri pertama kali Serikat Pekerja ‘Syndicato’, yang dipimpin oleh Wilson Pinheiro dan Chico Mendes. Mereka mengajak para seringueiro untuk bersatu bersama-sama melawan penindasan yang terjadi.
Wilson Pinheiro ditembak mati oleh peternak sapi setempat di pertengahan tahun 1980. Chico Mendes langsung mengambil alih kepemimpinan di Syndicato dan menghimbau para anggotanya untuk tidak membalas dengan kekerasan. Tapi terlambat, pemerintah mengambil tindakan represif untuk menenangkan gejolak yang terjadi Acre, beberapa anggota perserikatan ditangkap, dijebloskan dalam penjara, dan disiksa, termasuk Chico Mendes. Akan tetapi hal tersebut bukannya menyurutkan perlawanan, sebaliknya perjuangan para anggota perserikatan semakin meningkat.
Perjuangan Chico Mendes tidak sendirian, Adrian Cowell, seorang sutradara film dokumenter dari Inggris mengenalkan fenomena yang terjadi di Amazon kepada dunia. Dari pembakaran hutan, pemotongan pohon secara liar, pembuatan jalan, juga perlawanan Chico Mendes dan kawan-kawannya dalam menyelamatkan daerah mereka dari ancaman kehidupan.
Secara politis, perlawanan yang dilakukan Chico Mendes semakin menguat pada tahun 1985. Ia membantu Partido dos Trabalhadores (PT), sayap kiri partai politik yang dipimpin oleh Luiz Inacio Lula da Silva (kelak menjadi pemimpin di Brazil). Peran Chico Mendes mulai diperhatikan oleh pemerintah Brazil. Di tahun itu pula Chico Mendes menghelat pertemuan pertama serikatnya di ibu kota Brazil. Beberapa perkumpulan para seringueiro di kota lain hadir pada forum tersebut. Dari diskusi yang terjadi dalam pertemuan tersebut, Chico Mendes mengenalkan konsep ‘Extrative Reserve’ untuk hutan Amazon pada dunia. Sebuah konsep yang menyatakan bahwa cadangan alam harus terus dijaga, sebab dalam hutan Amazon tidak hanya terdiri dari pohon karet yang diambil getahnya, melainkan ada ribuan spesies, tanaman obat-obatan yang tumbuh di dalamnya.
Pada maret tahun 1987, Chico Mendes terbang ke Washington DC mencari dukungan kepada Inter-American Development Bank, World Bank, dan Kongres Amerika untuk mendukung upayanya dalam merealisasikan ‘Extrating Reserves’.  Chico Mendes mendapat juga mendapatkan penghargaan Better World Society Prize dari Ted Turner, pemilik CNN dan Global 500 Award of The Uniterd Nations. Dalam salah satu kesempatan pidatonya di muka umum (dunia), Chico Mendes berkata:
“Pada awalnya aku berpikir bahwa aku berjuang untuk menjaga keberlangsungan hidup para penyadap karet, kemudian aku berpikir bahwa aku berjuang untuk menyelamatkan hutan hujan Amazon. Sekarang aku sadar, bahwa aku berjuang untuk kemanusiaan.”
Kiprahnya di dunia internasional semakin mengukuhkan perjuangannya untuk melindungi hutan Amazon dari perusakan besar-besaran yang terjadi hampir selama dua dekade sejak tahun 1970. Tapi di dalam Amazon sendiri, pemotongan pohon secara liar terus terjadi. Peternak sapi setempat Darly Alves da Silv terus membuka lahan baru untuk memperluas peternakannya. Hingga pada akhirnya pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk menjaga kelestarian hutan Amazon dan melarang segala bentuk penebangan pohon dan perusakan hutan lainnya. Peternak Darly Alves da Silva pun terpaksa mundur.
Pada 6 Desember 1988, Chico Mendes menjadi pembicara dalam seminar mengenai Amazon di universitas Sao Paolo Brasil. Dalam pidatonya ia mengatakan:
Aku tidak menginginkan bunga, sebab aku tahu bahwa kamu memetiknya dari dalam hutan. Yang saya pikirkan dan inginkan adalah kematian saya kelak membantu untuk menghentikan pembunuhan oleh mereka yang mendapat perlindungan dari aparat berwenang Acre, yang sejak tahun 1975 telah membunuh lebih dari 50 orang Amazon. Seperti saya dan para tokoh penyadap karet lainnya yang telah bekerja keras untuk menyelamatkan hutan hujan Amazon dan membuktikan bahwa pembangungan tanpa penghancuran adalah mungkin.
chicomendes.com
Pada tanggal 22 Desember 1988, di usianya yang ke-40, tepat satu minggu pasca hari kelahirannya. Chico Mendes dibunuh oleh penembak gelap di sekitar rumahnya. Ia meninggalkan seorang istri dan dua orang anak yang masih kecil. Dua tahun pasca tragedi itu, pemerintah Brasil berhasil menangkap tersangka pelaku pembunuhan, yaitu peternak sapi Darly Alves da Silva.
Kisahnya divisualisasikan oleh sutradara John Frankenheimer dalam sebuah film bergenre drama dokumenter dengan judul “The Burning Season”.
*R Arif Firdaus Lazuardi-Mahasiswa Matematika ITS
Diterbitkan dalam buletin Langkah Awal edisi 14, 5-18 September 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Redaksi langsung menghapus komentar yang tidak mencantumkan nama penulis komentar (anonim)!