Selasa, 03 Mei 2011

‘Suro’, ‘Boyo’, ‘Jancok’; Budaya atau Bahaya


Suro  : Ni gua Yo, masak loe gk kenali suara gua?
Boyo : Gua sopo yo, “guatel” ta?
Suro  : Ini gua, coba diinget-inget.
Boyo : Gua! Konco ku sing jenenge gua cuma loro. Lek gak “guatel” ya “guaplek”.
Suro  : Gimana sih loe! ini gua. Suro.
Boyo : Juancok Suro, kon kok gak matek-matek?
Sekilas dialog film pendek, Grammar 2. Bahasa yang sangat kental persahabatan dan khas Suroboyoan. Begitulah Cak ikin meracik film indie yang pernah menembus 3 besar Peksiminas VIII (2006).
Cak Ikin adalah salah satu alumni ITS yang karyanya sudah mewabah di tingkat nasional. Kreator ikon ‘Suro’ dan ‘Boyo’ dalam film indie (red-independen) Grammar ini memiliki nama asli Mohammad  Sholikin, yang tercatat sebagai mahasiswa Desain Produk ITS bidang studi Desain Komunikasi Visual (DKV) angkatan 2002 dan lulus pada tahun 2006. Melalui karyanya inilah, Cak Ikin ingin memperkenalkan ikon dan budaya kota Surabaya. “Kalaulah di luar negeri memiliki ikon yang dibanggakan, seperti doraemon, batman, superman, dsb. Nah, sebenarnya di Indonesia juga sudah punya ikon yang berkarakter tapi belum diakui oleh beberapa pihak. Makanya, saya kenalkan kembali ikon ‘suro’ dan ‘boyo’ ini,” jelasnya.
Untuk mengetahui ciri khas yang melekat pada warga Surabaya, Cak Ikin mendapatkannya dari sudut pandang masyarakat luar kota Surabaya. Ternyata hal yang paling diingat dan paling berkesan dari warga Surabaya adalah kata-kata ‘cok’nya. Bermula dari hal itu, Cak Ikin mengangkat ciri khas kata-kata “cok” pada film Grammar. Selain itu, film Grammar ini juga mengangkat ciri khas lain yang ada di kota Pahlawan, seperti makanan khas Surabaya (Lontong Balap); kata-kata sapaan akrab yang sering diucapkan pemuda Surabaya (jek urip ae kon cok?); dll.
Di samping mengangkat ikon dan budaya Surabaya, film indie ini juga mengandung kritik sosial. Seperti keinginan pembuat film untuk membangun gedung yang menampung kreativitas pemuda Surabaya. Menurutnya selama ini, komunitas-komnitas indie Surabaya seperti band indie, komik indie, dan film indie tidak mendapat dukungan penuh dari pemerintah kota dan selalu kesulitan dalam menyewa gedung. Dalam Grammar 2, keinginan tersebut disampaikannya lewat tokoh Boyo yang ingin membangun gedung TOSAN (Tontonan Suroboyo Akhir Pekan).
Kemudian dalam film grammar edisi “CuloBoyo Juniol” menyinggung masalah krisisnya lagu-lagu yang diperuntukkan anak-anak, bahkan anak-anak sekarang sering menyanyikan lagu cinta (red-dewasa) yang tidak sepatutnya dinyanyikan oleh anak kecil.
Meskipun isi dari film-film yang ada penuh dengan kritik sosial. Tetapi pemuda asal Bojonegoro ini mengemasnya dengan gurauan ala Suroboyoan sehingga filmnya tidak terasa berat. Misalkan gurauan yang dilontarkan tokoh Pak Waw dalam film grammar edisi “CuloBoyo Juniol”, saat dia menjelaskan tentang kambing yang dipeliharanya. Seakan-akan terdapat perbedaan antara kambing yang berwarna putih dengan kambing yang berwarna coklat, namun ujung-ujungnya tokoh ini menjawab podo (sama).
Jika penikmat film indie melihat secara keseluruhan karya yang dihasilkan Cak Ikin. Tentu akan melihat tulisan ucapan terima kasih yang ditujukan ke Sinematografi UNAIR. Hal ini seringkali membuat jancokers grammar (penggemar film Grammar) mengira bahwa Cak Ikin merupakan mahasiswa jebolan UNAIR. “Memang seringkali orang-orang menganggap saya lulusan UNAIR, makanya saya sering nulis status di facebook SURO BOYO kalau saya ini lulusan ITS, sampai saya upload foto profil yang ada logo ITS nya,” ujarnya pada kru Langkah Awal.
Diakuinya, sinematografi UNAIR banyak memberikan dukungan moral kepadanya dalam proses pembuatan film. Karena pada saat itu di almamaternya (ITS) belum ada komunitas yang bisa mendukungnya untuk terjun dalam pembuatan film indie. Bahkan, keinginannya untuk terjun dalam film indie pun bermula dari kedua orang temannya yang mengajak ke pemutaran film indie yang diselenggarakan oleh INFIS (Independen Film Surabaya) dan dilanjutkan dengan diskusi-diskusi. “Mendengar karya kita diapresiasi orang lain dalam diskusi merupakan kenikmatan tersendiri. Dan inilah yang memotivasi kita untuk terus berkarya,” jelas Cak Ikin.
Tentunya, tidak semua pihak menerima karya Cak Ikin. Ada beberapa pihak yang menganggap bahwa film Grammar yang dibuatnya tidak mendidik karena mengandung kata-kata kotor. Untuk mementahkan pendapat itu, Cak Ikin selalu mengikut sertakan karyanya dalam perlombaan yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah. Karena menurutnya, kata-kata ‘cok’ yang ada saat ini sudah mengalami pergeseran makna; seperti ‘cok’ sebagai pujian, ‘cok’ sebagai sapaan, dan ‘cok’ sebagai hujatan. Hal itu pernah disampaikannya ketika menjadi pembicara dalam diskusi budaya beberapa waktu lalu bersama budayawan lainnya.
Dengan ide pemikiran dan kerja keras Cak Ikin, beberapa penghargaan pun telah didapat dari film grammar. Penghargaan-pengargaan yang telah didapat tersebut antara lain juara favorit Festival Animasi pada tahun 2006, juara favorit SIFEST tahun 2007, masuk dalam 5 besar ILT Award 2008, juara 3 dalam acara Deperindag tahun 2009, kemudian juara 2 favorit Helofest 2009, dan pada tahun 2010 meraih juara 1 SEAGAS. (imot/samdy/arif)

Kata mereka
Film Grammar ini bagus sekali, mengangkat budaya dan penuh kritik sosial, tapi sayangnya ITS tidak mewadahi kreativitas alumninya. Malahan UNAIR yang mendukung, padahal ITS lebih mampu.” Faris (Surabaya), Presiden Lembaga Minat Bakat (LMB) ITS, Planologi ITS 2007.
Wah, saya nggak tahu film Grammar tuh, saya cuma dengar dari teman saya ada film tentang ‘suro’ dan ‘boyo’ yang pake kata-kata ‘cok’, mungkin lain kali saya harus lihat.” Mausub, Mahasiswa Matematika ITS 2010.
Kami belum pernah lihat filmnya. Tapi setelah nonton yang yang pertama dan keempat (diperlihatkan oleh kru Langkah Awal), hikmah yang ada dalam film bagus, berisi sindiran-sindiran sosial, menyatakan kalau hukum hanya berpihak ke orang-orang kaya, menyalurkan aspirasi warga Surabaya lainnya, dan mendukung ide-ide kreatif yang ada.” Ika (Bojonegoro) dan Nurul Qamar (Aceh), mahasiswi Teknik Informatika ITS 2010.
Dipublikasikan juga di buletin Langkah Awal, Edisi 5 (02 – 15 Mei 2011)
Nb: Untuk info lebih lengkap tentang Cak Ikin dan karya-karyanya silahkan kunjungi link www.gathotkacastudio.com atau www.gatstu.blogspot.com

2 komentar:

  1. bahasa suroboyo yang kasar namun penuh makna saya suka disisi lain akan sangat bersebrangan dengan budaya timur (seperti saya orang madiun) yang jarang menggunakan bahasa kasar kecuali saat bener2 marah. saya lebih sepakat dengan culoboyo juniol akan lebih bagus saat ditambah satu tokoh lagi si bonek yang kental dengan suroboyo, sebuah kenekatan yang diberi jalur positif. atau ada yang mmau membuat kartun bertema sibonex saya tunggu kemunculanya besar harapan saya baik culoboyo juniol atau si bonex bisa bediri sejajar dengan uping iping dan naruto

    surya hadi

    BalasHapus
    Balasan
    1. ide yg malah lebih bagus

      Hapus

Redaksi langsung menghapus komentar yang tidak mencantumkan nama penulis komentar (anonim)!