Selasa, 23 Agustus 2011

Parade Soe Hok-gie : Merdeka atau Sapi?!

adicmoo.wordpress.com
Oleh: Bung Strez*
“Kenapa kamu memberi pengemis itu uang Soe? Bukankah sebaiknya kamu berpikir panjang, sebaiknya kamu mempertimbangkan kembali tindakanmu? Bagaimana bila nanti di jalan ban sepeda motormu bocor? Bagaimana bila, bila, bila..” ucap saya kepada Soe. “Sampai kiamat juga kamu tidak akan pernah merdeka sejak dalam perasaanmu strez.”Teriaknya pada saya. (Mimpi di siang bolong, 18-12-2010)
Kemarin lusa adalah hari kemerdekaan Indonesia. Saya diajak berdiskusi oleh kawan-kawan langkah awal ITS. Adalah pada awalnya sebuah cerpen dari sesepuh Tiyang Alit bernama bung Malik, yang menjadi bahan perbincangan. Kesan awal yang saya dapat, ternyata moderator tidak profesional. Entah kenapa arah diskusi yang semula disepakati untuk membedah cerpen bung Malik menjadi melenceng membahas hal yang lain.
Justru anehnya lagi peserta diskusi tidak ada yang memprotes. Hemm.. jadi mungkin saja kawan-kawan ini sudah sangat lelah, setelah seharian bergumul dengan proses pencarian data reportasenya. By the way ya sutralah, karena moderator manusia dan saya sendiri juga manusia, memiliki rasa iba hati dan kasihan. Akhirnya saya biarkan saja ketidakkonsistenan itu berlanjut. Entah ini bisa dikatakan sebagai korupsi atau tidak?!

Sejak awal dalam proses diskusi kebuntuan telah terjadi. Diskusi terjebak dalam pendefinisian dua macam istilah. Istilah yang adalah teks, simbol kontekstual dalam realitas kehidupan mereka. Karena saya hanya mendengar apa yang dibicarakan begitu sangat formal. Saya sebenarnya jadi  mengantuk, tapi ya saya paksa untuk melek. Kita tidak juga saling berbicara dari hati ke hati. Malahan kita berbicara dari satu teori ke teori lainnya. Mulai dari pedefinisian kata “merdeka hingga hati nurani”. Banyak peserta berbicara mengenai teori pemikiran, konsep entah apapun itu; dari  buku A, agama B, partai C, filsafat D, sejarah E, politik F, fisika G, Norma H, Tokoh I, dan lain-lain teori dan konsep sebagainya sampai Z.
Semua jawaban masih timbul dari buah pikirannya. Padahal istilah “merdeka”, “hati nurani” atau saya lebih suka sebut “cinta”. Bukankah itu adalah sifat bawaan manusia yang selalu melekat dalam diri manusia. Sebentuk kesadaran naluriah yang ada dari dalam perasaan manusia itu sendiri. Kesadaran yang ada dalam tiap masing-masing peserta diskusi.
Cinta! Yang tiap manusia normal pasti memilikinya. Jadi diskusi ini menimbulkan perdebatan pemikiran yang mencoba meng-interpretasikan perasaan bernama cinta. Saya tidak habis pikir, bagaimana manusia bisa melogikakan-mendefinisikan atau bahkan lebih parahnya lagi menyangkal perasaan Cinta yang akan senantiasa selalu melekat ada dalam hati, diri dan jiwanya.
Lalu bila segala nilai-nilai begitu hampa, apakah yang dapat kita jadikan pegangan? Agama? Terang tidak. Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan:”dapat mencintai dan iba hati, dapat merasai kedukaan”. Tanpa itu semua maka kita tidak lebih dari benda. Berbahagialan orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan rasa yang paling bernilai itu. Kalau kita kehilangan itu maka absurd-lah hidup kita. Lihatlah orang Sparta, mereka adalah orang-orang yang malang. Seorang Fasis di mana dimatikan nilai-nilai cinta. Ia adalah sekrup saja. (Catatan Seorang Demonstran, 16-12-1961)
Namun sayangnya saat ini, kesadaran Cinta anak muda atau mahasiswa kebanyakan lebih sering merujuk kepada suatu pola hubungan asmara. Hubungan diantara lelaki dan perempuan yang sering dipertontonkan oleh media, baik itu di bioskop maupun Televisi. Perasaan cinta yang luas dan kompleks dari realita kehidupan sekitar, perasaan cinta terhadap sesama manusia yang kesusahan disekelilingnya, tidak juga terlalu peka dirasakan oleh anak muda.
Tapi saya percaya sebenarnya mereka masih bisa merasakannya, karena mereka manusia biasa. Hanya intensitas mereka saja yang membatasi sisi kemanusiaan dalam diri terekspresikan. Mereka terlalu sibuk dan terbiasa mengerjakan seabgreg tugas-tugas kuliah, puluhan proker organisasi entahlah apa  saja itu. Bilapun jenuh mereka lebih melampiaskannya dengan berbelanja shoping ke Mall ketimbang belanja di pasar yang becek. Mereka lebih terbiasa di lingkungan berAC ketimbang lingkungan kumuh di kampung pinggiran. Mereka lebih terbiasa nongkrong di café ketimbang nyangkruk di pinggir jalan. Tapi saya sendiri lebih suka bermain bilyard akhir-akhir ini, ketimbang bermain layangan.
Sifat utama kemerdekaan adalah spontanitas kejujuran
Padahal yang ingin saya dengar adalah kejujuran dari hati. Bukan juga buah dari kerja pikiran. Ketika saya bertanya kepada salah seorang peserta "dari manakah anda memiliki rasa kasihan bila ada seorang pengemis lewat di depan anda?" dia menjawab dengan serangkaian metode ilmiah. "Karena dari alam, lingkungan tempat saya dibesarkan, apa yang saya pelajari selama ini. Dari orang tua saya, teman-teman saya, bla..bla..bla..". Kesan spontanitas itu belum juga saya dapatkan. Saya kira jawabannya sederhana, ternyata dia berikan jawaban rumit, latar belakang bagaimana bisa dia memiliki rasa kasihan dengan jawaban turunan khas ala seorang manusia analisis.
Sekali lagi yang saya tanya adalah dari mana asal dari rasa kasihan itu? Kenapa tidak berani juga bersikap spontan jujur bila itu memang dari dalam hatinya? Dan bukankah tidak perlu berlama-lama, spontan seorang manusia yang masih memiliki rasa cinta pasti akan juga memberinya uang. Tanpa perlu berpikir kritis berlama-lama.
Siang tadi aku momong kera, aku bertemu dengan seorang(bukan pengemis) yang tengah memakan kulit mangga. Rupanya ia kelaparan. Itulah salah satu gejala yang mulai nampak di ibu kota. Dan kuberikan Rp 2,50 dari uangku. Uangku hanya Rp 2,50 waktu itu (Catatan Seorang Demonstran, 10-12-1959)
Refleksi kemerdekaan, bukankah yang harusnya lebih berisi curahan hati, perasaan, keresahan yang terpendam selama melihat realitas kehidupan yang terjadi di sekitar kita? Memang sih kesannya terasa begitu cemen. Namun fenomena “gejolak rasa cinta” ini adalah hal yang amat krusial, yang akan menjadi landasan untuk berpikir dan bertindak dalam mendeteksi hakikat penindasan yang sedang di alami oleh manusia detik ini, saat ini juga.
Dulu Pram pernah bilang "Bersikap adillah sejak dalam pikiran!". Tapi saya bilang tidak, ternyata belum saatnya mbah Pram, terlalu cepat yang njenengan sarankan kepada kami. Bagaimana bisa pikiran bersikap adil dan bebas, bila sejak dalam perasaan saja manusia belum bisa bebas merdeka 100%,  mengekspresikannya secara spontan dan apa adanya?
Bagaimana bisa seorang multatuli menulis Max Havelar, padahal ada begitu banyak orang pintar yang lebih pintar dari dia di Belanda sana. Bila memang itupun perasaan resahnya belum juga merdeka spontan diekspresikan olehnya?
Bagaimana pemuda/pemudi tahun 66, 74 atau 98 bisa spontan berdemonstrasi, bergerak turun ke jalanan berpanas-panasan, bila mereka juga merasakan gejolak cinta-keresahan yang sama? Alih-alih manusia yang mestinya bisa bersikap spontan, bebas dan adil sejak dalam perasaannya. Ternyata hari ini perasaannya mesti dikunyah dulu, harus loading lambat dulu, berhenti sementara. Perasaan cinta menjadi sebentuk data informasi, yang harus diproses dulu di otak.
Jadi slogan seorang filsuf yang bernama Rene Descartes seperti cogito ergo sum “aku berpikir maka aku ada”, ya lebih lengkap dan tepat lagi sebenarnya berbunyi, “aku berpikir, maka aku ada, ada dalam dunia pikiranku sendiri gitu lho.” Mungkin seperti itu maksud dari apa yang hendak coba dituturkan oleh bung Hendri di tengah diskusi. Senada dengan apa yang diutarakan oleh bung henry, bung yaumil menegaskan "jangan pernah kita definisikan cinta", terlihat begitu tegar ia simpan gemuruh cinta dalam hatinya. Entah bagaimana bila rasa itu terlampiaskan, bumi ini mungkin saja bergetar tak sanggup menahan ledakannya. Bung rafi menambahkan "kita butuh pergerakan untuk menyikapi ini semua". Sedang bung arif dan bung ucup yang selalu bertanya penuh sinis, serasa menyimpan begitu banyak keresahan, 

Untunglah bung Didin datang meredam sesaat gejolak batin yang terjadi itu. Bagi saya ia seperti kupu-kupu dalam cerpen bung Malik "kita perlu diskusi-diskusi seperti ini", ucapnya dengan penuh semangat. Hati saya berdebar, kesadaran ini lambat laun pasti akan membumi. Karena memang butuh ruang untuk meluaskan kesadaran akan cinta. Dan salah satunya memang butuh ruang dan waktu luang untuk meluaskan kesadaran akan cinta seperti ini. Dan salah satunya memang membiasakan diskusi seperti ini, dari sinilah cinta berkerlipan bagai bintang di langit. Ternyata bung Didin masihlah seorang manusia biasa yang mudah resah dan gelisah. Kagumnya saya dia tidak seegois saya, dia lebih suka berbagi cinta dengan itu siapa saja.
Terlalu berlebihan berpikir kritis kadang menjadikan mahasiswa menjadi tidak bebas sebagai manusia.(Catatan Harian Seorang Okt Kiau, 17-08-2011)
Manusia adalah kebebasan, dan kebebasan adalah manusia itu sendiri
Merdeka atau bebas, sifat itu hanya dimiliki oleh manusia. Apakah hewan memiliki kebebasan, terang tidak. Apakah benda memiliki kebebasan, terang tidak. Siapa yang memiliki sifat bebas maka jawabnya, hanyalah manusia. Tidak ada mahluk hidup ataupun benda alam satupun di semesta ini yang bisa dikatakan bebas kecuali manusia. Manusia bebas untuk tidak menjadi manusia, manusia bebas untuk menjadi hewan, manusia bebas untuk menjadi alat/benda. Tapi tidak sebaliknya.
Ternyata untuk menjadi manusia, tidak perlu menjadi kalkulator. Eh maaf tidak perlu menjadi orang pintar maksudnya. Berani bersikap bebas-spontan, mengungkapkan kejujuran dan ketidakadilan sejak dalam perasaan. Tukang becak di tahun ‘45an saja mampu turun kejalanan, begitu spontan mengungkapkan perasaannya Ikut pula berperang berkorban meregang nyawa melawan tentara Inggris. Dia pekikkan kata Merdeka! Tanpa perlu berpikir panjang akan konsep agama, tanpa takut mati, masuk surga ataupun neraka. Singkatnya tanpa perlu bertele-tele berpikir kritis, kemudian bilang “nggak bisa kita harus jadi seorang jenderal dulu”. Ya sampai kiamat perang 10 November tidak akan pernah terjadi kalee.
Saya tidak heran ketika mahasiswa saat ini toh pada akhirnya menjadi sebegitu terbentuk seperti benda mati, yang menurut saya sangat begitu kejam dan tak punya perasaan. Alih-alih menjadi manusia analisis, manusia kalkulator, manusia komputer, manusia fotocopy dan analogi lain sebagainya. Tidak jarang ketika manusia ini berjalan menuju ruang birokrasi hendak menyuarakan suara hati, “Tolong mas kalau mau protes pakai data”. Oh ternyata kampusnya sendiri yang jadi biangnya.
Kekakuan ini berasal dari sistem pendidikan universitas luar negeri yang dibawa ke Indonesia. Sekarang para Intelegensia harus mencari, menelaah kembali persoalan yang sebenarnya dari Indonesia., rakyat sudah begitu menderita dan segera memerlukan perbaikan, karena bila kita mau mengharapkan konsepsi yang matang atau masak dari intelegensia, mana mungkin, itu lama sekali. Kita tidak boleh menggantungkan nasib kita pada konsepsi, tapi harus menghayati dan menyadarinya (Catatan Seorang Demonstran, 19-02-1963)
Kebebasan, saling terbuka, saling berempati, saling berkeinginan untuk memahami satu sama lain-yang seharusnya menjadi sebuah rutinitas dalam keseharian manusia. Katakanlah sewajarnya adalah kebiasaan yang berulang-ulang dari waktu luang ke waktu luang karena rasa rindu. Ternyata tidak ada waktu luang dan ruang kebebasan yang menyisakannya. Terbentur sistem pendidikan kampus-(bahkan organisasi kampus) yang tidak bisa juga memanusiakan mahasiswa sebagai manusia biasa.
Saya tidak juga heran karena saya sadar, karena memang mereka adalah korban. Korban kebijakan pasar yang berimbas kedalam sistem pendidikan. Akibat sistem pendidikan yang makin komersial seturut juga dengan prinsip agenda Pasar. Manusia menjadi barang komoditi seperti sapi, yang harus dibentuk dan diberi label harga yang mahal, maka tak heran SPP makin mahal. Karena memang dibentuk oleh kampus yang bergengsi terjamin mutu dan kualitasnya.
Dari lingkungan yang mereka tempati itulah; Jam malam diberlakukan, absensi 80% diterapkan, materi kuliah copy-pastean dari tahun ke tahun begitu seragam tak jauh berbeda. Mau TA tinggal copy paste dari senior-senior sebelumnya. “lihatlah bapak direksi,  ini adalah kualitas susu terbaik kami, masa pembusukannya tepat matang 4 tahun.”
Inikah pendidikan manusia, atau sapi?!
"Beri saya seribu orang tua, saya bersama mereka kiranya dapat memindah gunung. tetapi apabila saya diberi sepuluh pemuda yang bersemangat dan berapi-api, kecintaannya pada bangsa dan tanah air tanah tumpah darahnya, saya akan dapat mengguncangkan dunia".(Soekarno)
Bila bung Karno butuh 10 pemuda yang semangat berapi-api untuk mengguncang dunia. Maka di kampus Indonesia saat ini, Seorang pemuda hanya butuh seorang pemudi yang feminim-melankolis untuk menciptakan 10 pemuda/i lainnya. Eh sori ralat, untuk mengguncang tempat tidur. Astaga, sori-sori ralat lagi, untuk mengguncang dunia juga maksudnya.
Kelompok intelektual yang terus berdiam dalam keadaan yang mendesak telah melunturkan semua kemanusiaannya.(Catatan Seorang Demonstran, 14-o1-1963)
Jujur saja setelah nonton film Gie yang diaktori oleh Nicholas Saputra. Saya dulu jadi gemar ikut-ikutan berdemonstrasi. Tapi sayangnya saya bukanlah orang seidealis Gie. Sayangnya saya berdemonstrasi bukan untuk rakyat seperti apa yang sering Gie ungkapkan dalam catatan hariannya. Ternyata lambat laun saya ketagihan, ya saya berdemonstrasi untuk kepuasaan diri saya sendiri. Untuk mengungkapkan segala keresahan dan kegalauan yang saya alami, saat itu juga, detik itu juga. Saya ini manusia biasa gitu. Saya ini manusia biasa yang mudah resah, mudah gelisah, dan sangat ramah. Saya berusaha seidealis seperti Gie, berkorban untuk rakyat namun entah kenapa tak pernah bisa.
Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari Sekolah Menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi (Artikel Soe Hok-Gie :Mimpi-mimpi terakhir seorang Mahasiswa Tua, 16 mei 1969)
Jadi dari awal sampai kapanpun juga bukan untuk hal yang sangat mulia, hanya pengen dilihat keren saja sebenarnya. Gejala psikologis setelah nonton film Gie gitu. Film Gie kan lagi nge-tren saat itu. Bukan pula seperti apa yang sering dicita-citakan oleh Mahasiswa lama sebelum saya(termasuk gie), mereka yang sudah berkorban banyak sebagai aktivis pergerakan bila berdemonstrasi adalah perjuangan menuntut keadilan untuk rakyat.

Atau ada juga yang untuk kejayaan Islam bagi Organisasi mahasiswa bercap Islam, atau untuk kejayaan Himpunan A atau B, bahkan yang terakhir sering untuk kejayaan almameter kampusnya, bangsa dan negaranya. Begitu terkesan heroik, sarat dengan nilai-nilai kepahlawanan, kesucian, ketotalitasan terhadap suatu garis perjuangan. Itu benar-benar hal luar biasa mulia yang pernah saya dengar. Agak merinding sebenarnya ketika saya mengucapkannya, “Hidup rakyat!”. Tapi mual kalau mendengar orang mengucapkan “Hidup Islam!”. Gak tahu kenapa, ruwet untuk menjelaskannya.
Ya begitulah Bilapun saya pernah berdemonstrasi, jujur saja hal itu saya lakukan karena memang spontan luapan perasaan hati, hanya untuk menenangkan kegalauan/keresahan dalam hati nurani saya sendiri, untuk diri saya sendiri. Ketimbang disebut sebut sebagai mahasiswa, karena bagi saya terlalu berat beban moral dan kemuliaannya. Maka saya lebih suka menyebut diri saya sebagai seorang rocker. Mbebek sama si cakil, yeah Rocker juga manusia gitu lho, punya rasa, punya hatilah.
Bilapun saya akhirnya terjun berorganisasi dalam menyuarakannya, baik itu ikut organisasi intra kampus(maaf saya tidak pernah ikut organisasi mahasiswa ekstra kampus saya tidak tertarik untuk menjadi anggota partai politik praktis kelak). Itu bukan pula untuk menjaga eksistensi organisasi yang saya geluti. “jangan pernah bertanya apa yang sudah Organisasi lakukan padamu, tapi bertanyalah apa yang sudah kamu lakukan untuk Organisasimu”, itu agak lebay rasa-rasanya.
Bukan pula untuk penghias CV, memang dengan berorganisasi bagus untuk jenjang karir bila kita bercita-cita menjadi seorang profesional muda kelak. Melamar pekerjaaan di Perusahaan A, Lembaga Negara B, Kantor Pemerintah C, dll. Jelas sebagai seorang yang pernah aktif di organisasi seperti BEM selama beberapa periode masa kepengurusan, hal itu sungguh sangat menggiurkan dan menjamin karir kita kelak di meja direksi lho.
Oke kembali ke seurius, ternyata sangat begitu banyak kepentingan dibalik segala tindakan. Saya hanya ingin mengingatkan kepada adik-adik baru dan mahasiswa yang mau lulus. Bahwa masih ada kesempatan bagi kalian untuk menjadi manusia biasa, saat ini, detik ini juga. Jangan pernah mau ditipu baik itu oleh dosen, ataupun kakak-kakak senior kalian. “Bila kalian adalah calon-calon para pemimpin bangsa Indonesia kelak, bla..bla..bla..”.
Itu fitnah, dan fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Karena memang sejak sebelum kalian masuk di kampus ini, sejak kalian sadar bahwa kalian hanyalah seorang manusia biasa. Sejak saat itulah kalian sudah menjadi pemimpin, minimal bagi diri kalian sendiri, bagi perasaan kalian sendiri, kalian sudah mampu mengenali apa itu hakikat penindasan tanpa perlu kalian diajarkan oleh orang lain. Karena saya yakin kalian adalah manusia biasa yang lebih manusiawi ketimbang kakak-kakak senior kalian. Manusia biasa yang masih lugu belum juga tekontaminasi sistem pendidikan yang sapi. Kalian masih juga mudah resah dan gelisah, betapa sedih dan tidak adilnya melihat anak kecil mengamen hidup dijalanan, mereka yang tidak bisa sekolah terkendala beban biaya. Sementara SPP tempat kalian berkuliah ternyata makin naik.
Saya paham dan sadar, toh kalian akan bosan berdiskusi seperti meniru kebiasaan para pemimpin bangsa yang duduk di parlemen, seperti apa yang ditayangkan berulang-ulang dalam layar televisi. Saya paham kalian bosan mendengar bualan omong kosong dari para pejabat sinetron itu, seperti begitu juga bualan kakak-kakak senior ataupun dosen kalian. Saya paham dan sadar bila kalian muak tidak juga tahan harus berada dan bertahan  di lingkungan akademis seperti ini.
Saya paham dan sadar, toh pada akhirnya kalian sudah tidak tahan juga ingin turun mendirikan Sekolah Rakjat bagi anak-anak yang tak bisa sekolah di kampung-kampung kumuh di pinggiran. Saya paham dan sadar bilapun kalian melakukan baksos itu tidak lantas akan menurunkan biaya SPP dan keresahan kalian masih saja mengental. Saya paham dan sadar sebenarnya kalian sudah tidak tahan untuk menghampiri pak rektor. Saya paham dan sadar sebenarnya kalian ingin memeluk pak rektor dengan segera, mencoba mengingatkannya dengan sepenuh cinta, bersuara spontan, meledakkan segala isi hati kepadanya.
Saya paham dan sadar, bila pak rektor akhirnya tak juga mencabut kebijakan itu. Kalian masih tetap saja ngotot dan keras kepala. Kalian duduki rektorat. Kalian seharian berada disana. Kalian tidur dan bermalam disana, kalian rela digigit nyamuk-nyamuk buas yang tak berperikemanusiaan. Saya paham dan sadar kalian mulai bosan dan lelah. Saya paham dan sadar kalian toh hanya manusia biasa, yang mudah resah, gelisah, padahal begitu ramah. Entah kenapa harus marah?!
Pada kami timbul keragu-raguan yang besar apakah masih ada gunanya belajar, berdiskusi, dan lain-lain, sedang rakyat kelaparan dimana-mana. Padanya terjadi rangsangan yang kuat untuk bertindak, to take action.(Catatan Seorang Demonstran, 16-03-1964)
Mahasiswa sejak dalam perasaan saja sudah tidak merdeka, maka Logika cara berpikirnya semakin berantakan.
Dan sempurna-lengkaplah mahasiswa sebagai seorang manusia. Ketika ada salah seorang peserta berkata “Saya jadi lebih termotivasi untuk melakukan penelitian, bidang saya disitu”. Jadi disitulah letak spontanitas kebebasan. Itu seperti kalimat yang sering saya dengar, “Ya saya lebih termotivasi untuk menjadi seorang Presiden atau Gubernur atau Anggota DPR untuk mengubah semua ini kelak”. Padahal penindasan terjadi detik ini, saat ini juga. Bahkan penindasan itu terjadi didalam kampusnya sendiri, di depan matanya sendiri, bergejolak di dalam relung hatinya sendiri.
Ada luka di jempol kaki, yang diobati malah dengkul. Ada harimau masuk lewat pintu depan, tapi yang ditutup malah pintu belakang. Ketika harga SPP dan SPI naik, maka solusinya adalah segera cepat-cepat lulus. Sementara ratusan juta anak-anak dari kelas ekonomi menengah kebawah di negeri ini, tak mungkin lagi berkuliah dikampus mereka.
Ketika harga BBM naik maka carilah energi alternatif, dengan segeralah semua mahasiswa dari jurusan Teknik Industri, Kimia, Biologi akan sibuk mencari energi alternatif. Sedang Mahasiswa Desain Produk, Teknik Sipil, dan lain-lain jurusan akan tetap sibuk dengan bidang penelitiannya masing-masing. Ngukur-ngukur entah apalah itu. Sementara diluar kampus, semakin banyak saja anak-anak miskin tidak bisa sekolah karena kendala biaya, harga-harga bahan pokok semakin merangkak naik, makin banyaklah juga orang yang kelaparan.
Falsafah Pendidikan Nasional menegaskan bahwa tidak seorang pun dapat ditolak untuk mendapat pendidikan yang lebih tinggi atas alasan-alasan material, ya karena misalnya dia miskin. Karena itu sekolah-sekolah yang memungut iuran sekolah yang terlalu tinggi bertentangan dengan prinsip pendidikan nasional. Apakah yang lebih tidak adil selain daripada mendidik sebagian kecil anak-anak orang kaya dan membiarkan sebagian besar rakyat miskin tetap bodoh? (Catatan Seorang Demonstran, 28-02-1964)
Benar-benar sangat sederhana. Jadi serangkaian gejolak rasa cinta, itu masih belum dimerdekakan alias dibebaskan. Manusia atau mahasiswa Indonesia, masih belum juga manusiawi; belum juga merdeka mengungkapkan spontanitas kejujuran dan keadilan yang selalu bergejolak dalam relung batinnya yang terdalam. Mereka masih saja terjebak dengan konsep, melakukan serangkaian pembenaran tindakan buatan (tidak spontan). Dan menyerahkan semuanya kepada sesosok Alien yang bernama “masa depan”.
Bila hari ini Mahasiswa kian asyik berpikir pikiran berkutat dalam diktat dan teori. Jelas proses berpikir, dimana disana tanpa ada stimulus perasaan yang merdeka. Itu sama halnya seorang professor yang hidup dan mengajar di kandang sapi. Masalahnya sekarang mahasiswa ini sapi atau manusia? Lagi-lagi bagaimanapun manusia itu bebas untuk memilih, bahkan bila pilihan itupun tidak menjadi manusia. Maka saya ucapkan selamat hari kemerdekaan Republik Indonesia. Mari dengan lantang seraya ucapkan dalam hati kita yang terdalam : Merdeka atau Sapi?!
Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi "manusia-manusia yang biasa". Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai “seorang manusia yang normal”, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia (Mimpi terbesar Soe Hok-Gie; Catatan Seorang Demonstran)
*Dwi Oktrisna-Seorang Pengangguran berkedok mahasiswa

2 komentar:

  1. Nice !

    "padahal penindasan terjadi detik ini. Saat ini juga bahkan penindasan itu terjadi didalam kampusnya sendiri di depan mata sendiri,bergejolak di relung hatinya sendiri"

    kata-kata yg mengantarkan saya pada peristiwa 6 bln lalu,
    teman saya berpamitan "Mutung" hanya karena ingin membantu memenuhi kebutuhan keluarganya -sampang, madura-

    jika teringat ini, saya pasti menangis! [haha]

    saya hanya manusia biasa yg tak bisa "mempertahankan teman saya untuk kuliah"

    lalu apa gunanya tittle "mahasiswa"
    benar.
    Saya sepakat dgn penulis .
    Itu gelar yg trlalu agung.

    Hidup manusia biasa !!haha :'(

    BalasHapus
  2. Justru manusia juga gelar yg terlalu agung

    Ya emang bener penulis


    Hidup sapi !! Hehe

    BalasHapus

Redaksi langsung menghapus komentar yang tidak mencantumkan nama penulis komentar (anonim)!