Rabu, 03 Agustus 2011

Benih Penjajah


Oleh: Ika Astutik*
“Dek, apakah kau yakin menjadi istriku? Aku tak ingin malam ini berlalu dengan kebohongan. Dengan sadar, aku hanya seorang pemuda desa miskin yang tak bisa menjanjikan apapun padamu.” Tegasnya padaku.
“Sebaiknya kau pikirkan tawaran untuk dijadikan istri ke 25 dari Tuan Gubermen1 itu, kau akan berkecukupan, aman dan bahagia bersamanya.”
Aku bergeming mendengar ucapan suamiku. Aku tak mampu beranjak dari ranjang yang terbuat dari susunan bambu yang dipaku agar terbentuk ranjang ala kadarnya. Aku bingung. Tubuhku mendingin hingga seolah tak mampu memberi respon pada ucapan suamiku. Dan mataku mulai memanas, bulir air menjebol pertahanan sudut kelopak mataku. Ya, aku mulai  menangis. Kenapa malam ini, dia mengucapkan sesuatu yang tak patut. Kenapa malam ini ?
Aku berusaha mengucapkan kalimat dengan tatapan dingin, ”bunuh aku”.
Suamiku lantas menengok dan menatapku. Istrinya yang ia nikahi tadi sore. Ia segera mendekap tubuhku. Memelukku erat. Melekat sekali. Hangat tubuhnya menyatu menjadi hangatku. Aku  tak mampu lagi menyembunyikan kerapuhan. Aku menyeimbangi erat pelukannya. Tangisku pecah sudah.
Diantara sesenggukan, kalimatku keluar dengan tersendat-sendat, ”aku benar-benar hancur, tapi kenapa kau mempertanyakan itu? Bukankah kau telah berjanji atas nama Tuhan untuk menjadi imam bagiku. Bukankah malam ini adalah malamku dan malammu?”
Air mataku membasahi punggungnya. Ia merenggangkan eratnya. Tatapan mata coklatnya memanah tepat di retinaku. Tidak. Bahkan hati dan seluruh tubuhku terpanah sudah. Malam menggenapkan hasratnya. Nyanyian jangkrik, semilir angin dingin yang  lembut memanja serta sinar rembulan yang menelusup menerobos celah-celah bilik dinding bambu melengkapi romantisme malamku malamnya. malamku malamnya yang pertama. Tak terlupakan.
Sial! Gaduh sepatu yang menginjak-injak tanah mengusik kebebasan yang kini sedang aku nikmati. Pintu kayu kamar terpental akibat tendangan laki-laki yang raut wajahnya tak tampak jelas olehku. Karena memang saat itu tanpa penerangan. Hanya sinar rembulan satu-satunya sumber cahaya dikamar. Aku dan suamiku geragapan bangun. Bukan satu laki-laki, tapi segerombolan lelaki berseragam hijau dan revolver. Dua diantara mereka menarik tubuh suamiku dari ranjang. Menjambak rambut suamiku lantas menyeretnya keluar kamar. Naluriku sebagai seorang istri serentak menggerakkan tubuhku menghampiri suamiku.
“Aaaaaa.... Dek suci!” Teriak kesakitan suamiku.
“Kang mas!” raungku 
Aku mencoba merobohkan pertahanan laki-laki bersenjata itu yang mencoba membawa suamiku pergi. Malapetaka menyambut. Segerombolan laki-laki berseragam, entah berapa banyak mereka. Entahlah. Mereka mulai mendekati aku dan menelisik tajam setiap sendi tubuhku. Aku berusaha untuk menghantamkan tubuhku ketubuh mereka. Mencoba menerobos dan menyelamatkan suamiku. Suara pesakitan suamiku kian samar. Aku tak sanggup menjelaskan. “Aku ingin suamiku.” Teriak hatiku
Tak begitu lama, salah seorang dari gerombolan laki-laki itu ,mengangkat tubuhku dan melemparkan ragaku ke ranjang. Gerombolan laki-laki itu merampas jarik yang menutupi tubuhku. Tak lebih menjijikan dari seekor hewan. Mereka menggerayangi tubuhku. Batinku menjerit lari dalam angan mencari suamiku. Sedang ragaku termakan syahwat binatang-binatang. Bukan romantisme lagi. Bukan ibadah lagi layaknya pasangan pengantin. Malapetaka tepatnya. Tawa gerombolan laki-laki itu ‘bermain-main’ dengan ragaku. Tertawa kegirangan. Harus dengan kata apa lagi aku yang terjamah habis-habisan mengambarkan kebahagiaan mereka. Benar yang kukatakan tadi, ini malam yang tak terlupakan. Tapi bukan malamku dan suamiku seutuhnya. Aku harus membagi malam bersama gerombolan manusia-manusia laknat bersragam dan bersenjata. Manusia-manusia penjajah.
Cahaya matahari menelusupi celah-celah bilik dinding bambu membentuk pedang-pedang cahaya yang membuka pejam mataku. Gerombolan laki-laki itu lenyap dari pandanganku. Tertinggal tubuhku tanpa seutas benang pun. Bercak darah menghiasi kakiku dan ranjang. Dengan daya yang tersisa, aku coba bangkit dan mengambil jarik untuk menutupi tubuhku. Aku lari menuju kali yang berada dibelakang rumah. Darah perawanku mulai luntur dan berbaur dengan air kali. Perih. Namun masih ingin kurendam tubuhku yang begitu kotor sekaligus menjijikan ini. Aku jijik dengan tubuhku. “Aku jijik!” Biar ku katakan sekali lagi. “Aku jijik!”.
Aku tak sanggup jika harus menceritakan hal menjijikan ini kepada suamiku. Betapa aku akan meracuni hatinya dengan sakit hati. Rasanya aku ingin mati saja.
Tidak! Aku tidak bisa mati sekarang. Aku harus tetap menunggu suamiku pulang. Aku tak ingin dia semakin menderita melihat istrinya mati bunuh diri. Dia sekarang pasti sedang berharap istrinya akan baik-baik saja. Aku berjanji akan tetap hidup untuk suamiku. ” Aku berjanji.”
Suasana kampung semakin mencekam. Para laki-laki kampung mulai tak bersisa. Mereka semua diseret paksa oleh penjajah untuk kerja paksa membangun aspal. Begitulah kerja Rodi. Tak sanggup rasanya jika mendengar cerita-cerita tetangga tentang proses kerja paksa.
“Aku dengar, mereka sepanjang hari bekerja. Pagi ketemu pagi. Tak peduli cuaca mau tampil dalam bentuk apa. Pokok ya kerja terus, terus dan terus. Mengangkat batu-batu yang ratusan kilo. Memecah batu yang teramat keras. Makan juga sehari sekali. Nasi gaplek lauk garam kasar dan minumnya air kali, mbak yu.” Ceritanya padaku. “Makan sehari sekali juga tidak pasti. Sering tak di kasih makan. Jadi mereka makan apa yang bisa dimakan di sekitar mereka kerja.” Hatiku mulai bertarung mendengarnya dia.
“Kau tahu dari mana mbak yu? Jangan membuat hati kita semakin sedih mendengar cerita yang mengada-ada seperti itu.”
“Eh, beneran mbak yu. Sebulan lalu, bapakku sempat melarikan diri dari kerja paksa. Dan dia cerita soal kerja paksa tersebut. Namun, tak sampai sehari dirumah, bapakku sudah terseret lagi dalam penderitaan. Bapakku yang sudah renta dipaksa kerja kembali. Dia harus kerja!” Tersedu-sedu.
Mendengar percakapan itu, halusinasi mengajakku membayangkan sesuatu yang buruk tentang keadaan suamiku. Belum genap sehari aku menjadi istri, aku tak ingin menjadi janda ketika suatu saat kemerdekaan datang. Entah kapan!
Berminggu-minggu aku menjalani hidup ditengah mencekamnya kampung sendiri. Wanita-wanita disini menjadi buruh kebun di perkebunan Belanda. Seharian bekerja, kami memperoleh upah 2 picis sehari. Jika beruntung bisa mendapatkan sekarung beras sebagai bonusnya, namun keberuntungan hanya menghampiri beberapa dari kami. Beberapa dari kami layak untuk dinikmati. Keuntungan yang terbayar dengan kerugian, penindasan dan trauma. Beginilah hidup wanita-wanita yang suaminya terampas. Beginilah hidup di zaman penjajahan koloni. “Beginilah.” Batinku
Akhir-akhir ini aku  mual dan sering muntah. Baru aku menyadari ternyata perutku mulai berisi. Aku hamil. Ini kebahagiaan atau kepedihan. Aku tak mengerti. Kehamilan ini kian membuatku menjadi ‘psikopat.’ Menangis sendiri. Tertawa sendiri. Melamun sendiri. Karena suamiku tak kunjung kembali. Kehamilan ini, selalu menampakkan kepahitan malam itu. “Aku takut!”
Apa ini benih suamiku atau salah satu para laki-laki laknat itu. Ketakutan ini membuatku terus tergerus rasa bersalah terhadap suamiku. Bagaimana jika wajah anakku menyisakan wajah penjajah. “Bagaimana jika ternyata anakku memiliki mata yang   biru?”
“Bagaimana jika rambutnya berwarna?” dan “Bagaimana jika tak ada wajah suamiku yang melekat pada parasnya kelak?” Bagaimana jika! Bagaimana jika!
“Aarrrrrrrrrh... Duh Gusti!”
Dipojok ruangan kamar, aku meratapi kepedihanku sendiri. Kerinduan yang teramat dalam terhadap suamiku. Suami yang tak genap sehari setelah menikah lalu menghilang.
Berbulan-bulan panas matahari menambah suasana gersang kampungku. Keramaian terdengar dari jalanan kampung. Aku berlari keluar rumah bersama perutku yang semakin membusung. Terlihat rombongan para laki-laki yang tampak kurus dan berkulit hitam legam. Mereka berjalan sempoyongan, terlihat sekali mereka berjalan dengan daya yang ala kadarnya. Para wanita kampung mulai ramai mendekati rombongan itu. Mereka tampak memaksa untuk mendekati rombongan itu. Aku juga turut ingin mendekati rombongan. Sepintas aku seperti melihat seorang pria yang  mirip suamiku. Atau jangan-jangan itu suamiku. Aku arahkan mataku untuk memusat pada laki-laki itu. Dan aku yakin benar bahwa itu adalah suamiku.
“Mas Imam !”
Dan ternyata laki-laki itu menoleh. Aku berusaha memecah kerumunan orang untuk mendekati suamiku. Suamiku juga berusaha meninggalkan rombongan untuk mennghampiriku. Dan disusul beberapa laki-laki dalam rombongan itu juga turut ingin memisahkan diri dari rombongan itu. Namun tentara dari penjajah mencegah usaha para laki-laki itu. Suasana semakin ricuh. Dari arah selatan muncul beberapa laki-laki yang tersisa di kampung membawa tombak dan benda tajam lainnya turut bercampur dengan rombongan yang kian ricuh itu. Waktu serasa konstan berhenti. Suamiku kini telah ada dihadapanku.
Delapan bulan setelah malam itu, ia tampak berbeda. Kulitnya kian legam dan tubuhnya sangat kurus. Ada laki-laki yang menyenggolku hingga keseimbangan tubuhku roboh. Aku terjatuh menghujam tanah. Benturan tubuhku dan tanah mengakibatkan pecah pertahanan selaput darah. Aku pun pendarahan. Darah mengalir dari selakanganku. Suamiku kian panik. Di tengah keributan, suamiku menggendongku dengan tergopoh-gopoh dan berlari dengan keseimbangan rapuh menuju rumah. Perutku terasa kaku dan sakit minta ampun. Aku sudah tak sanggup lagi untuk menahan. Sepertinya aku akan segera melahirkan. Suamiku yang hanya seorang kuli tak mungkin membantu persalinan ini. Dia  berlari keluar ditengah aku menikmati pesakitanku. Tak lama kemudian dia kembali bersama mbok Rondo. Dukun beranak yang usia nya kini sudah 70 tahun. Aku menarik  ulur nafasku. Cairan keringat sudah semakin deras membasahi tubuh. Tenagaku tinggal sepucuk. Mampukah aku melahirkan. Dlam batin, aku sudah siap jika aku harus dikubur bersama bayi yang gagal keluar ini. “Aku sudah siap dikubur Tuhan!”
“Aaaaaaaarggghhhh......”
Segala daya telah ambrol bersama terdengarnya tangisan bayi.Yang bersisa hanyalah lemas tak terkira. Lamat-lamat pandanganku kabur dan aku pun berada dalam kegelapan dunia pingsan.
Suara gaduh mengusik telingaku. Pelan-pelan mataku terbuka disambut senyum suamiku yang menggendong bayi. Aku sangat senang ternyata bayiku selamat begitu juga aku. Namun, aku tak bisa menggendongnya. Aku tak mau melihat bayi itu. Aku tak sudi menyentuhnya. Aku muak melihat wajah bayi itu. Teriakku menyuruh suamiku membawa pergi bayi laknat itu.
“Pergi! Buang bayi itu kang mas. Aku jijik melihatnya!” Bentakku pada suami.
Suamiku pergi juga. Tapi tak beberapa lama suamiku kembali.
“Kenapa kau tak menginginkan bayi kita dek?” Tanyanya padaku keheranan.
“Apa kang mas? Bayi kita? Itu bukan bayi kita kang mas. Coba lihat matanya biru, rambutnya pirang dan kulitnya juga putih!” Isakku kepadanya
Tak sanggup lagi aku menyembunyikan pedih yang kembali lagi membentangkan memori buruk malam itu.
“Aku sudah bisa menerka dek, maafkan kang mas mu ini. Maafkan kang mas mu ini yang tak bisa menjagamu. Kalau kau benci, tak seharusnya pada bayi itu. Tapi padaku dek. Marahlah padaku. Dan pukulah aku.”
Suamiku memegang tanganku dan menamparkan tanganku tepat diwajahnya. Aku berontakkan tanganku untuk melepaskan ikatan jari-jarinya di pergelangan tangan. Tangisku dan tangis suamiku pecah.
“Maafkan kang masmu dek, kang mas tak bisa menjadi pemberontak yang berkekuatan. Kang mas hanya mampu menjadi budak penjajahan. Kang mas tak mampu menghadirkan kemerdekaan buatmu. Bahkan ditengah penjajahan ini, kang mas tak sanggup menghadirkan kemerdekaan buat hatimu dek.”
Suamiku bersujud di telapak kakiku. Aku tetap menangis tanpa kata. Aku hanya mampu menghadirkan sesenggukan tangis. Aku tak tau, apakah hati nuraniku punah ketika berhadapan dengan memori buruk tentang penjajah-penjajah laknat itu. Mungkin juga iya, karena sampai kapanpun aku tak bisa menyisakan serpih-serpih tentang panjajah laknat yang telah merenggut kemerdekaan negaraku dan  batinku. Termasuk bayi itu. Bayi benih penjajah. Aku tak bisa menerima. Sampai kapanpun. 
Bersambung….
1 Pejabat Belanda—seorang totok, yang mampu memiliki istri atau gundik melebihi 1 orang karena gajinya di atas 2000 Gulden.
*Mahasiswi Teknik Informatika ‘10

2 komentar:

  1. Hmm, tulisannya bagus. Meskipun jarang baca sejarah, mungkin tulisan ini bisa mewakili bagaimana kondisi di jaman penjajahan. Mungkin dengan penggambaran seperti itu, ada beberapa kalangan yang tidak terima, namun tidak ada batasan untuk seorang penulis mengekspresikan apa yang dia ingin tulis. Memang, masing - masing memiliki cara tersendiri untuk menyajikan sebuah karyanya. Semangat, terus menulis ya!

    BalasHapus
  2. coba baca "Perempuan remaja dalam cengkeraman militer " karya pramoedya ananta toer. Lebih miris ceritanya...
    jadi terinspirasi tulisan ini.Nantikan kelanjutannya ya !!
    hidup wanita Indonesia !!
    hehehehe...

    BalasHapus

Redaksi langsung menghapus komentar yang tidak mencantumkan nama penulis komentar (anonim)!